Batas Suci

Anda pasti pernah membaca istilah professional boundaries alias batas-batas profesional dan kiranya juga tahu contohnya dari cerita sejarah di Pulau Jawa misalnya. Betul, Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga. Saya cuma dengar sewaktu pelajaran sejarah di SD (atau TK ya saya lupa😂), ratu ini pernah membuat aturan dan meskipun pelanggarnya adalah anggota keluarganya sendiri, ia tetap menjalankan hukuman kepada anggota keluarganya itu. Tak ada kolusi, tak ada nepotisme.

Contoh lain juga ada di lingkaran ‘kerajaan’ sekarang ini. Nama rajanya Jokowich. Anaknya tak bisa jadi PNS karena memang tak lolos seleksi. Anaknya yang lain buka usaha sendiri. Tak seorang pun masuk dalam ranah politik untuk mendukung kekuasaan rajanya yang toh mau tak mau lengser setelah memperpanjang masa jabatannya sekali saja. Raja ini tak mencampuradukkan ranah keluarga dengan ranah kekuasaan. Memang sih dia bisa mengajak keluarganya untuk kunjungan ke sana kemari, tetapi itu semata untuk jadi penggembira, bukan untuk melanjutkan kekuasaan bapaknya.

Tanpa professional boundary, kerja orang jadi amburadul. Itu mengapa terjadi banyak kerunyaman di aneka macam tempat kerja, mulai dari perselingkuhan sampai rujuk kecil-kecilan supaya kuasa lama bisa ditumbuhkan kembali, eaaaaa.
Tentu saya tak cuma bermaksud menyindir para pengumbar pusat kekuasaan negeri ini. Juga dalam lingkup kerja seperti yang saya tekuni, problem professional boundary itu gak main-main. Orang seperti saya bisa larut dalam emulsi kerja dan cinta, eaaaaa. [Pengalaman ya Rom?😂]
Bahwa orang bersahabat tentu saja oke, tapi kalau persahabatan itu mulai merembet-rembet ke pekerjaan (atau sebaliknya), sebaiknya, bener-bener sebaiknya, perlu diwaspadai supaya professional boundary tak ternodai.

Lha emangnya kenapa sih Mo? Bukankah malah bagus, bisa saling membantu? Iya, maunya begitu, kenyataannya ya seperti yang tersaji dalam teks bacaan hari ini: Guru dari Nazareth mengembalikan professional boundary yang dikacaubalaukan justru oleh mereka yang gemar power relation.
Kompleks Yerusalem memang pusat peradaban Israel dan Bait Allah jadi sentral. Di situ ada kantor pemerintahan, istana para pemimpin, tempat tinggal para imam, dan juga dokter. Mereka sepakat bahwa mereka bekerja demi Allah, tetapi ya konkretnya bekerja demi perut mereka sendiri. Akhirnya, ironis sekali. Di satu sisi, itu ranah tempat rakyat jelata diberi nutrisi rohani. Di lain sisi, para penguasa poligama tadi membuat rakyat jelata terasing dari kerohanian itu dan tereksploitasi dengan aneka macam pajak.

Andai saja itu cuma terjadi di Yerusalem pada zaman jebot itu, dunia sekarang ini mesti sudah adil makmur sejahtera merata!
Sayangnya, professional boundary bukan barang umum. Dibutuhkan askese, ingkar diri, kerendahhatian, keikhlasan, sikap asertif, supaya orang menemukan sungguh mana yang untuk Kaisar dan mana yang untuk Allah (meskipun semuanya berujung untuk Allah); dan itu awalnya ya mesti gak enak. Kalau hidup suci itu enak mah tak perlu banyak nabi yang dibunuh.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk setia pada batas suci-Mu dalam hati kami. Amin.


JUMAT BIASA XXXIII B/2
23 November 2018

Why 10,8-11
Luk 19,45-48

Jumat Biasa XXXIII A/1 2017: You Are Near
Jumat Biasa XXXIII C/2 2016: Agama Sarang Penyamun
Jumat Biasa XXXIII B/1 2015: Alasan Suci Memicu Kebencian
Jumat Biasa XXXIII A/2 2014: Bisnisku Bukan Bisnismu

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s