Sayembara Agama

Ini kelanjutan refleksi hari kemarin mengenai bagaimana orang mendidik seperti bidan, membantu orang mengeluarkan seluruh potensi kekuatan yang dimiliki sesamanya. Saya bukan bidan, tetapi bisa mengerti risiko dan tekanan yang dihadapi bidan. Analogi pendidikan seperti kinerja bidan ini tampaknya tak cocok dengan teks bacaan hari ini mengenai suasana Kerajaan Allah, yang diumpamakan sebagai biji sesawi yang tak butuh total surveillanceKalau begitu, perumpamaan yang disodorkan Guru dari Nazareth ini gak relevan dong! Mosok omong soal Kerajaan Allah yang menyangkut nyawa manusia tapi perumpamaannya pakai ‘nyawa’ tumbuhan?
Ya gak juga sih.

Yang disasar analogi itu bukan tumbuhannya, melainkan proses perubahannya: bahwa prosesnya tidak bergantung penuh pada petani. Begitu pula halnya pendidikan, prosesnya tidak bergantung seratus persen pada guru, orang tua, atau siapa pun yang diposisikan sebagai pendidik. Orang yang dididik sendiri punya potensi mekanisme challenge and response. Yang bikin pendidikan jadi ‘neraka’ ialah bahwa seluruh idealisme pendidik hendak diproyeksikan kepada setiap anak didik dengan pukul rata. Itu jadi ‘neraka’ bukan hanya bagi anak didik, melainkan juga bagi pendidiknya sendiri. Aneh kan orang mau mengajarkan hidup dalam Kerajaan Allah, tetapi dia sendiri hidup dalam neraka karena salah fokus: membidik hasil, menindih proses.

Saya ingat cerita dari Cina, katanya, mungkin aslinya produk Solo, tempat asal Jokowi, yang juga suka memanah. Konon seorang raja mengadakan sayembara untuk mencari pasangan bagi putrinya. Laki-laki yang bisa memanah apel dari jarak seratus langkah akan jadi pemenangnya. Sayembara tersebar ke mana-mana, bahkan sebelum ada internet. Begitu banyak orang gagal memanah apel, termasuk para pemanah ulung di kerajaan itu, yang bahkan sudah biasa memanah kelinci dari jarak seratus satu langkah [sempat-sempatnya ngitung, Rom?].
Pemenangnya adalah pemuda yang kemampuannya biasa-biasa saja. Ketika ditanya bagaimana ia bisa mengalahkan pemanah ulung membidik apel, ia menjawab,”Mereka rupanya berpikir mengenai Sang Putri yang rupawati. Saya berpikir mengenai apel yang saya bidik.”

Pemanah ‘ulung’ melihat Sang Putri sebagai target, bukan sebagai konsekuensi. Padahal, sayembaranya jelas: bidik apelnya, ambil hadiahnya. Maka, fokus sewajarnya ditujukan pada apel, bukan hadiahnya. Ini fiktif?
Mungkin, tetapi jangan-jangan orang beragama pun seperti itu: membidik surga tetapi malah menghancurkan tangga untuk naik ke sana, yaitu kemanusiaan universal.
Banyak contohnya sih, tapi tak perlu saya sebutkan di sini satu per satu. Prinsipnya, orang yang takut masuk neraka justru mempersiapkan dirinya masuk ke sana dengan sikap-sikap eksklusif dan merasa benar sendiri. Padahal, tak usah susah-susah, orang tinggal berusaha membangun kemanusiaan universal, nanti pada waktunya kan ya akan masuk surga.

Lah, Rom, gimana orang bakal masuk surga kalau nilai hidupnya tak sejalan dengan nilai agama? Nah itulah persoalannya. Bukankah konsep surga-neraka itu dibikin agama? Mengapa tidak memperlakukannya sebagai sayembara saja alih-alih menganggapnya sebagai target? Maksud saya, targetnya bukan surga-neraka, melainkan agama itu sendiri. Artinya, surga-neraka itu konsekuensi saja. Yang perlu disasar adalah agamanya itu sendiri supaya semakin universal, semakin memanifestasikan kemanusiaan universal, bukan tribal.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami semakin mampu mewujudkan kemanusiaan seturut citra-Mu. Amin. 


JUMAT BIASA III C/1
1 Februari 2019

Ibr 10,32-39
Mrk 4,26-34

Posting Tahun A/1 2017: Tikus Agama dan Bangsa
Posting Tahun C/2 2016: Tertawakanlah Diri Sendiri

Posting Tahun B/1 2015: Bedanya Burjo dan Bojo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s