Manusia Tribal

Maaf, ini awal Ramadhan tetapi saya mulai dengan refleksi yang cenderung kognitif, padahal semestinya Ramadhan jadi momen afektif dan volutif yang menyentuh passion. Bukan apa-apa, soalnya saya ditugasi mimpin misa komunitas, hitung-hitung sekalian menyiapkan khotbahnya biar gak mindhon gawéniDeadline paper akhir makin dekat je, lebih baik tak usah ambil risiko [mosok wis tombok aja masih ambil risiko yang gak cucuk, eaaaaa].

Saya mulai dari kata-kata Jean Baudrillard [membacanya saja sudah susah) yang konon kurang lebih bisa diterjemahkan bahwa konsumen itu cenderung soliter. Misalnya Anda membeli barang dan ternyata barang itu cacat-produksi. Bisa jadi Anda protes dan mengira bahwa cacat-produksi itu cuma menimpa Anda. Bisa jadi orang lain lebih pasrah dan toleran terhadap cacat produksi itu. Akan tetapi, jarang orang segera berpikir bahwa kerugian itu bersifat kolektif juga atau ketidakadilan itu bersifat sosial juga [di situ YLKI – harusnya – relevan].

Kalau pengertian itu ditempatkan pada kasus terorisme, orang bisa becermin apakah ia menyatakan hipotesis Baudrillard itu. Bisa jadi kalau orang tak jadi korban atau lingkaran dekat korban, terorisme tidak dianggap sebagai problem. “Yang kena bukan (keluarga) gue ini.” “Bukan agama gw ini yang dapat nama jelek.” “Bukan suku gua ini yang punah.” Sebodo’ amat!

Begitulah manusia tribal. Mungkin Anda langsung mengasosiasikannya dengan suku. Memang tidak salah, tetapi karena dilekatkan pada bangsa manusia, kata tribal juga bisa dimengerti sebagai kata sifat yang menggambarkan keyakinan atau kepercayaan primordial yang membangun ikatan kesukuan itu. Maka, manusia tribal tak perlu diasosiasikan dengan manusia suku primitif saja. Manusia tribal itu justru orang-orang zaman now juga yang tak punya perspektif terbuka, perspektif universal. 

Artinya apa? Juga kalau kepercayaan itu diletakkan pada Allah, Allah manusia tribal itu terikat pada keyakinan agama, suku, bangsa tertentu, bukan Allah yang melampaui itu semua. Itulah Allahnya teroris, manusia tribal. Yang sumbunya tersulut oleh Allah macam itu pun bisa jadi manusia tribal. Pengetahuan akan Allahnya abal-abal, tetapi suaranya mubal-mubal. Manusia tribal ada di sekeliling Anda. Mungkin Anda sendiri, seperti saya, punya benih manusia tribal itu.

Lawannya tribal, katakanlah universal. Diindikasikan dalam teks bacaan hari ini doa bagi manusia universal: kesatuan dengan Allah yang sejati. Kalau tetap tinggal pada ikatan tribal, termasuk Allah yang tribal, kejadiannya seperti bacaan pertama: pertengkaran karena Allah yang tribal itu. Paulus dicokok untuk diadili oleh orang-orang Saduki dan Farisi. Yang Saduki menyangkal kebangkitan. Yang Farisi penyokong kebangkitan Paulus memanfaatkan perbedaan keyakinan itu dan, benar saja, mereka bertengkar hebat karena perbedaan keyakinan sehingga malah Paulus bisa luput dari proses dakwaan.

Begitulah nasib manusia-manusia tribal, yang ngotot dengan keyakinannya sendiri dan tak mengindahkan bahwa Allah bisa mewahyukan kebenaran-Nya juga lewat pihak-pihak yang berbeda. Manusia seperti ini bisa membangun nasionalisme, tapi ya itu, nasionalismenya tetap tribal. Salah satu patokan untuk menengarai manusia tribal: kekerasan sejak dalam pikirannya, alih-alih keterbukaan untuk terus mencari kehendak Allah, menemukan kepentingan bersama.

Ya Allah, mohon tuntunan Roh-Mu di bulan suci ini supaya kami mampu merealisasikan manusia universal daripada meneladan manusia-manusia tribal. Amin.


KAMIS PASKA VII
17 Juni 2018

Kis 22,30; 23,6-11
Yoh 17,20-26

Posting 2017: Kita Pancasila
Posting 2016: Iklan Bernyawa

Posting 2015: Iman Sama Agama Beda

Posting 2014: Menyenangkan Siapa?

2 replies

  1. Terima kasih saya mengikuti,apa yg tertulis dalam renungan harian ini,yg menumbuhkan iman dan harapan dan kasih akan kehidupan yang universal

    Like

    • Sama-sama terima kasihnya Pak Andres Soesanto. Memang diharapkan pembaca seperti Bapak menghubungkan poin-poin dalam refleksi harian ini dengan penghayatan iman pribadi supaya harapan terus bertumbuh dan cintanya juga terealisasi. Amin.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s