HAM Teroris

Untuk dapat memetik buah blog ini, orang perlu meloloskan, ngedrop label-label (termasuk agama) yang dilekatkan pada dirinya sendiri maupun orang lain. Otherwise, hatinya tak tenang tapi pikirannya tak tercerahkan.

Hari ini ada kisah yang bisa mengingatkan orang supaya tidak jadi manusia tribalTiga kali Yesus menanyai Petrus dengan sapaan ‘Simon, anak Yohanes’. Kenapa gak cukup dengan panggilan ‘Simon’ saja sih? Apa pentingnya ‘anak Yohanes’ itu? Sapaan ini cuma terjadi di awal tulisan Yohanes dan pada teks yang dipakai hari ini. Mengapa cuma muncul pada awal dan akhir? 

Ini alternatif jawaban: menolak lupa, supaya Petrus éling potensi manusia tribalnya. Simon anak Yohanes ialah nelayan keras kepala dari Galilea yang, seperti warga lainnya, menantikan Mesias yang akan membebaskan mereka dari penjajah Romawi dengan angkat senjata, dengan kekerasan. Simon anak Yohanes ialah manusia tribal yang belum mengerti bahwa Mesias tidak pertama-tama hendak melepaskan mereka dari penjajahan manusia tribal lainnya, tetapi membebaskan mereka dari potensi manusia tribal dalam diri mereka sendiri. [Kalau tidak, apa bedanya dengan penjajah selain keluasan wilayah?] 

Itulah juga maksud pertanyaan Yesus: apakah kamu akhirnya mau bersahabat denganku dan tak jadi korban ideologi fanatik yang menghalalkan segala cara, juga teror?

Pesannya jadi jelas: hidup Kristiani adalah suatu pengalaman cinta yang mengandaikan hati nan murni dan sederhana, yang tahu bagaimana percaya dan berharap tanpa jatuh pada klaim nan rakus dan keinginan shortcut dengan kekerasan. Apakah itu hanya berlaku untuk orang Kristen? Jelas tidak. Di belahan bumi lain ada banyak orang Islam, Hindu, Buddha, dan lain sebagainya, yang menghidupi pengampunan, kedamaian, saat mereka jadi korban.

Saya titip pesan supaya pembaca blog ini tak mempertentangkan penegakan HAM dan penanganan terorisme karena terorisme sendiri adalah pelanggaran berat HAM. Saya memang prihatin komentar bersliweran yang seakan menganggap aktivis HAM menghambat penanganan terorisme.

Semoga tidak dilupakan bahwa dulu pada zaman diktator di negeri ini ada penembakan misterius. Bisa jadi yang ditembak adalah preman, bisa jadi salah sasaran, tetapi entah salah sasaran atau tidak, nyawa orang dihabisi tanpa proses pengadilan (ini bertolak belakang dengan cerita bacaan pertama: bukan kebiasaan bangsa Romawi menghukum orang tanpa pengadilan). Kalau penanganan terorisme menggunakan prinsip terorisme, ha njuk apa bedanya? Gimana rasanya kalau hanya gegara membawa bungkusan hitam malah orang ditembak mati? Apakah mereka yang mempertentangkan HAM dan penanganan terorisme itu sungguh mau menjadi korban salah tembak, misalnya, tanpa bisa membela diri, memberi penjelasan?

Saya kira, lebih bijaklah komisi HAM membantu aparat supaya pemberantasan terorisme tetap memperhatikan prosedur yang menghargai martabat kemanusiaan. Itulah juga kiranya yang sedang dilakukan Komnas HAM.
Lha wong teroris itu aja gak menjunjung martabat kemanusiaan kok, Mo! Lha iya mangkanya, kita berantas mentalitas mereka bukan justru dengan ikut-ikutan mentalitas mereka. Ha nèk ngono aé bubrah, Dul, podho térorisé.

Merasa mangkel, jengkel, grêgêten, gêmês, marah pada teroris iya, mungkin malah harus gitu, tetapi pengungkapan rasa-rasa itu juga tak perlu mengikuti prinsip dan cara-cara teroris dong.

Tuhan, sekali lagi, mohon rahmat supaya kami tak jadi manusia tribal. Amin.


JUMAT PASKA VII
18 Mei 2018

Kis 25,13-21
Yoh 21,15-19

Posting 2017: Jalan Peziarah
Posting 2016: Cinta Pret

Posting 2015: Makin Suci, Makin Banyak Dosa
Posting 2014: More Than Words…

3 replies

  1. Sejatinya semua agama mengajarkan kedamaian dan cinta. Mungkin para pelanggar HAM ini adalah orang-orang yang mengaku beragama tetapi tidak mengerti tentang beragama. Sudah habis pikir deh, tidak tahu lagi cara menasehati orang-orang yang pendengarannya tertutup dan hatinya telah mengeras seoalah pintu itu mustahil terketuk.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s