Naif Tiada Henti

Holiness is a drama of love between God and the human soul; a drama whose true protagonist is God him/herself [cieeee kesadaran gender]. Terjemahan gugel begini: Kekudusan adalah drama cinta antara Tuhan dan jiwa manusia; drama yang protagonisnya yang sejati adalah Tuhan sendiri. Itu bukan kata-kata saya, melainkan konon katanya Paulus VI, seorang Paus; dan kata-kata itu pantas diperhatikan karena keluar dari mulut Paus, bukan mujair atau kecebong.

Bagaimana memperhatikannya? Tentu selain dengan mata melotot, juga hati dan budi yang terbuka: bahwa kesucian itu suatu drama.
Loh, berarti bo’ongan dong, Mo?
Betul bo’ongan, tapi itu, dalam pengertian hermeneutika Ricoeur, cuma kenaifan pertama pemahaman kita, first naïveté. Seperti kalau orang beragama memahami dunia tercipta dalam waktu persis tujuh hari, itu adalah kenaifan pertama. Kenapa naif? Karena orang belum mempertimbangkan tujuh itu dalam semesta bilangan berapa dan hari itu menurut kalender solar atau lunar, dan sebagainya. Jadi, kalau orang memahami ‘kesucian adalah drama’ [atau lagu ‘dunia ini panggung sandiwara’] sebagai pernyataan bahwa kesucian itu tak ada yang sungguhan, cuma drama, ia masuk dalam kenaifan pertamanya.

Bagaimana supaya bisa keluar dari kenaifan pertama itu?
Memperluas perspektif, mencari sudut pandang lain, membuka wawasan dengan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, tak usah jauh-jauh deh, ambil saja dari kalimat Paus Paulus VI tadi: protagonisnya bukan orang ini itu yang main drama, melainkan Tuhan sendiri. Maka, orang suci itu tak akan pernah jadi besar kepala bahwa kesuciannya adalah hasil usahanya sendiri, hasil ketekunannya bermeditasi, hasil kepatuhannya pada moralitas, dan sebagainya. Dengan kata lain, kesucian itu bo’ongan manakala jadi urusan horisontal antara pemuka agama dan pembelakang agama dan yang di belakang menyebut yang muka itu suci, pret!

Dari situ orang masuk ke second naïveté: drama itu bukan soal membohongi sesama pemain, melainkan membohongi diri sendiri dan protagonis, jiwa manusia tak terlibat dalam relasi cinta dengan protagonis. Pakaiannya putih, ibadatnya rajin, amalnya juga banyak, tingkah lakunya sopan, tutur katanya halus (gak pernah bilang pret), tak pernah misuh, tapi itu semua tak menjamin relasi dengan protagonis, yaitu Tuhan sendiri. Pada banyak kasus, itu terjadi karena orang tidak kontak dengan jiwanya sendiri. Padahal, tadi kan dibilang kesucian adalah drama cinta antara Tuhan dan jiwa manusia; lha nek orang tidak kontak dengan jiwanya sendiri, piyé dia mau berelasi dengan Tuhan, Sang Protagonis itu?

Teks bacaan hari ini menyinggung hal yang sama. Gak penting peristiwa besar-kecil apa yang terjadi di semesta ini, yang penting orang beriman itu ‘mengikuti’ jiwanya dan dengan itu drama cinta akan dimainkan secara menawan karena protagonisnya tadi yang akan menjamu jiwa yang mencintainya. Berarti, yang penting relasi dengan protagonis drama tadi ya, Mo? Iya, tetapi kalau kemudian relasi dengan pemain lain dibuang, kita tinggal dalam kenaifan lagi, entah mau disebut kenaifan pertama lagi atau kenaifan kedua. Orang mesti bergerak lagi supaya drama suci tadi berjalan indah.

Tuhan, mohon kerendahan hati supaya kami tidak jatuh dalam kenaifan bahwa kamilah pusat dunia. Amin.


SABTU PASKA VII
19 Mei 2018

Kis 28,16-20.30-31
Yoh 21,20-25

Posting 2017: Real Juve: Jerman
Posting 2015: Keterbukaan Kreatif, Keyakinan Naif

Posting 2014: Mind your own business

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s