Kita Pancasila

Anda tak perlu jadi chef kondang untuk bisa membedakan antara adonan roti yang sudah kalis dan yang masih pating prenthul. Anda juga tak usah jadi ahli musik untuk membedakan paduan suara yang sudah blended atau pating plethot. Tinggal lihat dan rasa-rasakan saja dua adonan yang kalis dan belum kalis; tinggal dengarkan saja dua paduan suara yang suara anggota-anggotanya blended dan yang asal menyuarakan nada. Orang biasa pun tahu, meskipun belum tentu bisa membuat kalis adonan atau membentuk kor yang suaranya blended. Tak mudah membuat adonan kalis; lebih sulit lagi membentuk kor bersuara blended dan pastinya lebih susah lagi membangun bangsa Pancasila.

Pagi ini rasa dominan dalam diri saya adalah miris bin prihatin. Saya sedang menyepi sebentar dan setelah waktu sahur selesai saya melarikan diri dari tempat nyepi itu [tapi kembali lagi sih] sejauh 10 keliling lapangan sepakbola standar nasional [#halah] dan masuklah ke telinga saya kata-kata ‘khilafah’ yang terbawa angin entah dari mana asalnya. Lha begitu saja kok baper toh, Mo? Saya itu tidak punya ke-anti-an terhadap ‘khilafah’, tetapi ‘saya Pancasila’. Yang membuat baper saya bukan kata ‘khilafah’ tentu saja, melainkan kalimat-kalimat yang merangkainya, yang jelas-jelas menganggap pemerintah atau aparatnya tak paham arti ‘khilafah’ dan seolah-olah pembicara ini dan orang-orangnya sajalah yang tahu apa itu ‘khilafah’.

Saya memang tak tahu banyak soal ‘khilafah’, tetapi sejauh saya baca berita soal ini, itu bahkan tak perlu lagi dibahas untuk direalisasikan di Indonesia. Saya dapat link ini dan juga ini dan karena tak perlu lagi itu dibahas, saya cuma bergagasan sederhana: Anda pemimpin agama mbok ya doronglah umat Anda untuk mengerti betul itu Pancasila. Ini anjuran moral yang saya sendiri gak suka, tetapi saya sadar bahwa mereka yang menggagas Pancasila itu bukan orang-orang picik yang cuma mengandalkan gertakan otot berbondong-bondong menutup bandara atau jendela atau pintu atau apalah. Mereka punya modal cara berpikir yang terlatih juga oleh pengetahuan luas baik filsafat ataupun agama. Jadi sungguh memprihatinkan hari gini masih ipyik alias nyinyir untuk menegakkan hukum masyarakat plural dengan aturan sektarian.

Memang, gak gampang membuat paduan suara yang blended, apalagi bangsa majemuk yang NKRI. Di sana-sini pastilah ada tikus-tikus oportunis yang mendapat untung dari pemimpin-pemimpin agama yang tak berwawasan kebangsaan. Maka dari itu bacaan hari ini yang terkesan eksklusif pun saya tangkap dari perspektif ini. Teksnya menyodorkan doa Yesus untuk kesatuan umatnya. Tetapi siapa ini umatnya? Yaitu mereka yang hidup bersama dengannya dan juga orang-orang lain dari segala generasi yang percaya pada pewartaan mereka. Apakah ini doa untuk umat agama Kristen supaya bersatu? Pasti bukan! Ini adalah doa untuk semua orang yang percaya pada kabar gembira. Lebih menggembirakan mana hidup dalam keseragaman dengan menyimpan arogansi sektarian atau hidup dalam keragaman dengan membawa pita Bhinneka Tunggal Ika?

Saya kira perasaan kita masih normal: lebih menggembirakan keragaman pita Bhinneka Tunggal Ika. Siapa pembawa pitanya? Burung Garuda Pancasila!

Tuhan, mohon rahmat perlindungan-Mu supaya nilai-nilai Pancasila sungguh direalisasikan di bumi pertiwi ini. Amin.


HARI KAMIS PASKA VII
Pesta Wajib S. Yustinus Martir
1 Juni 2017

Kis 22,30; 23,6-11
Yoh 17,20-26

Posting Tahun 2016: Iklan Bernyawa
Posting Tahun 2015: Iman Sama Agama Beda

Posting Tahun 2014: Menyenangkan Siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s