Anak Fantasi Indonesia

Dulu saya tahu AFI sebagai akademi fantasi salah satu televisi swasta; sekarang saya tahu AFI sebagai anak fantasi Indonesia. Tak usah dibahas, wong ini cuma utak atik gathuk. Kemarin saya sempat melihat talkshow anak fantastis ini juga di salah satu televisi swasta dan ketika membaca teks bacaan hari ini mengenai kunjungan Maria kepada Elisabet, sosok AFI itu nongol di kepala saya. Kok bisa ya?

Ya bisalah. Benang merahnya terletak pada kata empati yang, saya curiga, menjadi barang langka, yang sempat dibahas dalam talkshow itu. Yang saya curigai semula adalah langkanya empati di kalangan orang muda karena dominasi gadget dalam hidup mereka, tetapi segera saya sadar bahwa kelangkaan karakter empati juga menyerang orang-orang tua yang bebas gadget. Sejujurnya, saya belum membaca penelitian tentang pengaruh gadget terhadap kualitas empati para penggunanya.

Pokoknya, saya terketuk pada AFI yang berempati di tengah-tengah dunia yang korup dan licik ini. Alasannya sih sederhana, sebagai penerapan golden rule: mbok ya eling bahwa dunia ini gak cuma seluas daun kelor. Di sini mungkin kita mayoritas, tetapi di tempat lain golongan kita ini minoritas. Coba bayangkan kalau kita sebagai minoritas di tempat lain diperlakukan seperti minoritas di tempat kita! Rasa-rasanya sih mak jleb, tetapi itu ya cuma bagi mereka yang punya benih-benih empati. Wong namanya empati itu ya susah ditawarkan pada mereka yang mentalnya korup, ambisinya buruk dan agendanya busuk!

Kidung yang disampaikan Maria hari ini menunjukkan dimensi empatik Allah juga: sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Orang-orang rendahan yang dikibaskan penguasa tamak yang senantiasa mencari cara untuk ngutil duit rakyat itu kiranya termasuk bilangan mereka yang diperhatikan oleh Allah yang empatik itu. Tentu saja, melalui orang-orang-Nya yang empatik, anak fantas(t)i(s) Indonesia.

Ya Allah, kami mohon rahmat kerendahan hati supaya semakin mampu berempati. Amin.


PESTA SP MARIA MENGUNJUNGI ELISABET
(Rabu Paska VII)
31 Mei 2017

Zef 3,14-18
Luk 1,39-56

Posting Tahun 2016: Siapa Sakit Jiwa? 
Posting Tahun 2014: Per Mariam ad Iesum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s