Tanggung Nih

Kemarin dulu saya ditanya mahasiswa apakah saya pernah dengar kata agnostik. Sayang, pertanyaan itu tak berlanjut dengan diskusi karena tak ada curiosity yang kelihatan dari pertanyaan selain yang bisa dijawab yes-no itu. Agak menyesal juga saya karena semestinya saya bisa memberi informasi yang lebih utuh daripada sekadar menerangkan apa itu agnostik. Cuma agak menyesal aja sih, gak sampai menyesal banget. Soalnya percuma juga menjelaskan sampai kerongkongan kering kalau yang diberi penjelasan memikirkan sesuatu yang lain, haha… balada dosen mata kuliah sampingan, eaaaa….

Saya tidak begitu ambil pusing atas kelompok agnostik atau bahkan atheis semata karena agnostisisme dan atheismenya. Problemnya ya tetap sama dengan mereka yang mengklaim diri theis dan beragama, yaitu hidup yang setengah-setengah. Setengah akal, setengah hati, setengah niat, setengah cinta, setengah percaya dan seterusnya. Kalau orang setengah-setengah, biasanya keterlibatannya minim, dan kalau tak ada keterlibatan bisa jadi pemahamannya juga setengah-setengah alias nanggung. To tell the truth, mereka yang nanggung beginilah yang biasanya suka menggertak atau membuat teror dengan mantapnya untuk menutupi kedangkalan hidupnya. Coba lihat misalnya mereka yang ikut bela diri; semakin tinggi ilmunya, semakin kebutuhan pamernya rendah, kecuali dalam perlombaan resmi.

Bacaan hari ini menyajikan doa pribadi Yesus bagi murid-murid yang hendak ditinggalkannya. Dari doa pribadi ini bisa diketahui bagaimana pandangan penulis mengenai pengenalan orang terhadap Allah: bukan pengetahuan kognitif-abstrak-spekulatif bermodalkan curiosity belaka yang memuaskan rezim kepastian, melainkan pengenalan akan Allah melalui partisipasi, keterlibatan yang dimungkinkan oleh Yesus itu. Gimana caranya keterlibatan itu? Ya dengan mengoperasionalisasikan ajaran dan teladan hidupnya, bukan? Mau gimana lagi? Lewat pengalaman cinta seperti dihidupi Yesus itu orang mengenal Allah bukan lewat premis-premis atau wacana filosofis, melainkan lewat akal yang terintegrasi dengan hati dan niat luhur untuk mengutuhkan kemanusiaan; biar gak setengah-setengah tadi.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami tidak setengah-setengah untuk mengenal-Mu. Amin.


HARI SELASA PASKA VII
30 Mei 2017

Kis 20,17-27
Yoh 17,1-11a

Posting Tahun 2016: Susahnya Sederhana
Posting Tahun 2015: Pengetahuan Tertinggi
Posting Tahun 2014: Memuliakan Tuhan, Mangsudnyah?

2 replies

  1. hallo romo

    dalam pengetahuan sya yg dngkal mungkin sya dpat membayangkan si atheis akan sinis mengapa orang theis percaya akan agama yg menggolongkan orang dlm kelas 2 trtentu (kasta), mengapa orang menikah ndk boleh cerai, atau boleh menikah dg beberapa org tetapi sah.. atau yg lain.. hal tsb mngkin ada dampaknya positif mungkin atau negatif (sya tdk tahu), tentunya saya percaya Tuhan .. karena dlm pemahaman sya orang atheis tdk bisa memaknai hidupnya.. benarkah demikian romo? bagaimana sya tahu kalau hidup sya “tdk setengah2”?.. terimakasih bila romo berkenan menanggapi.. dn maaf bila sya mngkin mengganggu…..
    berkah dalem..

    Like

    • Halo Om, orang yang tidak setengah2 itu tidak banyak atau malah tak punya kompromi untuk move on dalam kebaikan… (lha kalimat saya malah contoh setengah2, hehe… “tidak banyak” atau “tidak punya” kan beda)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s