Manusia Pecah Belah

Pernah terengah-engah lari mengejar kereta dan akhirnya cuma bisa melihat bokongnya yang semakin menjauh dan tak bisa lagi menunggu kita? Syukur kalau pernah. Paling tidak bisa berempati dengan mereka yang sudah berusaha keras tetapi akhirnya tak mencapai hasil juga. Tidak ada bokong kereta dalam bacaan hari ini, tetapi ada nuansa yang mirip dengan situasi para murid yang dulu bolak-balik diberi penjelasan gak ngerti-ngerti juga dan setelah halnya lewat baru mereka ngeh.

Dalam banyak hal mungkin memang begitu ya. Meskipun berkali-kali dibilangin bahwa penyesalan itu selalu datang terlambat, orang bisa saja ngawur mengambil keputusan dan baru kemudian menyesal setelah ancur. Tak ada orang menyesal sebelum berbuat dosa, dan tak mungkinlah kita menyesal sebelum Indonesia benar-benar luluh lantak karena radikalisme atau terorisme atau tunggu nanti kalau kasus korupsinya sudah besar banget deh atau sementara orang banyak melakukan hal yang sama ya gak usah ambil pusinglah. Kenapa ya bisa begitu? Karena orang belum utuh jadi orang sungguhan, masih terpecah-pecah dalam dirinya.

Andaikan saja ada tiga daya jiwa itu: budi-rasa-kehendak atau kognisi-afeksi-volisi [halah apa pula ada volisi] atau pikiran-hati-niatan suci atau head-heart-hands atau bagaimana deh mau diistilahkan. Membuat sinkron tiga daya jiwa itu ya ternyata gak gampang. Yang teroris itu punya otak dan kehendak kuat, tapi hatinya entah ngeloyor ke mana. Orang yang kelihatan karismatik dan santun itu tampaknya punya budi dan rasa, tapi gak bisa terima aktualisasi slogan kerja-kerja-kerja, gak ngerti mau kerja gimana. Sebagian lainnya giat bekerja sepenuh hati, tetapi andalannya “saya cuma menjalankan perintah” alias robot yang atasannya mamon atau orang berduit atau monster pemburu jabatan (ya demi duit juga sih). Nah, silakan pilih yang mana, tentu bisa membuat model sendiri dengan konsekuensinya sendiri-sendiri.

Para murid sudah menanggung konsekuensinya, dicerai beraikan ke sana-sini, meninggalkan Yesus seorang diri. Tapi, sik sik sik, you’ll never walk alone muncul lagi. Apa orang masih bisa mengatakan bahwa Tuhan bersama dia pada saat semua orang meninggalkannya?

Ya Tuhan, bantulah kami untuk senantiasa menjadi manusia utuh dan tetap hidup bersama-Mu. Amin.


HARI SENIN PASKA VII
29 Mei 2017

Kis 19,1-8
Yoh 16,29-33

Posting Tahun 2016: Mengukur Iman
Posting Tahun 2015: Arogansi Pengikut Kristus

Posting Tahun 2014: Sebetulnya Paham Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s