Mau Tunggu sampai Pensiun?

Konon ada yang membuat pemilahan agama langit dan agama bumi, padahal kata agama sendiri sudah problematis maksudnya apa. Saya pun cuma bisa ikut-ikutan membuat karakterisasi agama berdasarkan apa yang sudah disodorkan sosiolog ketika ada orang bertanya agama itu apa. Tak lain dan tak bukan, karena saya sendiri juga tak mengerti apa itu agama. Maka dari itu, untuk kesekian kalinya saya sampaikan bahwa blog ini bukan blog mengenai agama, bahkan meskipun di sana-sini mesti ada ungkapan berbau-bau agama. Saya berusaha, sejauh mendapat rida Allah, mencari apa yang disodorkan agama.

Lha, membaca teks yang disodorkan hari ini, saya ya bingung, doa yang disampaikan Yesus ini apa ya dia daraskan keras-keras sehingga didengar oleh penulis Kitab Yohanes ini? Kalau dia ucapkan dalam hati, ngapain juga dia mesti membocorkan doa-doanya kepada penulis Kitab ini? Rasa-rasanya kok lebih masuk akal bahwa doa Yesus ini adalah refleksi penulis Kitab (kiranya dengan inspirasi Roh) yang dilekatkan pada mulut Yesus. Njuk ngapain alias apa maksud si penulis itu menempelkan refleksinya pada mulut Yesus? Wanda’ tau ya, yang bisa dilihat cuma teksnya dan mestinya kalau si penulisnya waras, tulisannya itu punya logika yang waras juga dan dari situ bisa dilihat arah yang dia sasar.

Hidup kekal, yang sudah dimulai bagi setiap orang beriman (apapunlah agamanya), terdiri dari pengenalan akan Allah dalam diri atau hidup orang sendiri. Hidup yang diberikan kepada setiap orang ini adalah peziarahan untuk mencapai pengenalan itu: pengenalan diri sendiri dan pengenalan Tuhan. Ini dua sisi dari sekeping uang (#halah…): pengenalan Tuhan melalui penemuan interioritas diri seseorang. Tak sedikit orang yang memandang hidup semata sebagai mekanisme survival, mengalir sajalah dengan apa yang memuaskan kebutuhan; syukur-syukur yang jomblo dapat jodoh, tak cuma menuliskan kisah cintanya dalam mimpi, eaaaa…. 

Meskipun demikian, semua yang dilakukan orang, yang dikonkretkan, kegembiraan yang diuji cobakan, ujung-ujungnya, sebetulnya, adalah penyingkapan wajah Allah yang tersembunyi dalam kenyataan sehari-hari. Sebagian orang mudah menangkapnya, karena sudah pensiun dan tinggal menikmati suasana indah di botanic garden, misalnya. Sebagian lain mengalami kesulitan karena hidupnya diengkuk-engkuk oleh aneka pekerjaan yang bisa jadi beban. Persoalannya pasti tidak terletak pada masa pensiun, tetapi pada disposisi batin orang untuk menangkap wajah tersembunyi Allah itu. Runyam juga kalau mesti tunggu pensiun baru punya disposisi batin: cari duit banyak dulu, baru berbuat sesuatu “bagi” agama dan bangsa. Keburu luluh lantak bangsamu, Bro’!

Andaikan saja setiap orang mau berhenti sejenak dari kesibukannya untuk menangkap wajah tersembunyi Allah itu, mungkin dia tak butuh masa pensiun…

Tuhan, mohon rahmat supaya hidup kami senantiasa terarah pada wajah-Mu. Amin.


MINGGU PASKA VII A
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
28 Mei 2017

Kis 1,12-14
1Ptr 4,13-16
Yoh 17,1-11a

Posting Tahun 2014: Sursum Corda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s