God Loves You

Dalam Gereja Katolik itu ada banyak banget perantara(an) ya. Maklum, di mana ada sakramen, di situ ada medium perantara. Kalau tak hati-hati malah bisa jadi birokratis dan lebih ngeri lagi bisa bikin diskriminatif dan eksklusif. Ini pendapat pribadi saya: tak perlulah dalam Ekaristi diumumkan bahwa yang boleh menyambut Tubuh Kristus hanya mereka yang sudah baptis Katolik. Rasanya gimana gituwong yang sudah baptis Katolik pun belum tentu juga tahu dan ‘layak’, hahaha…. Ini pengalaman pribadi. Bukan dengan maksud mempermalukan orang di depan publik, tetapi memang saya sempat tanyai orang yang di depan saya untuk menerima hosti apakah dia sudah komuni, karena gerak tubuhnya tak seperti kalau orang berkomuni, dan dia jawab sudah tetapi berulang kali saya katakan “Tubuh Kristus” toh tak muncul jawaban dan tangannya pun tak memberi indikasi mau menerima sesuatu. Ya saya minta minggir dong. Yang antri banyak je.

Ini soal teknis saja, bukan soal prinsip bahwa orang yang belum baptis Katolik tidak boleh menyambut Tubuh Kristus. Berkali-kali dikatakan Yesus soal iman yang menyelamatkan, bukan soal teknis. Soal teknis tentu berguna, tetapi kalau sampai menista yang prinsip malah jadi muspra. Andaikanlah ada penyelundup yang antri komuni dan dia tahu betul teknis menerima Tubuh Kristus itu. Apakah dia menerima Tubuh Kristus? Kan bergantung pada iman pribadinya toh? Apakah itu bukan pelecehan atau penistaan? Yah… balik lagi ke situ deh. Mari inventarisasi saja kapan Tuhan dilecehkan! Justru saat orang melecehkan kemanusiaan. Jadi, bukan pada momen ketika dia antri dan menerima hosti lalu memakannya. Ini mirip halnya dengan yang disampaikan Yesus: yang menajiskan itu bukan apa yang masuk dalam tubuh, melainkan apa yang keluar darinya.

Teks hari ini menyebutkan: Tidak aku katakan kepadamu, bahwa aku meminta bagimu kepada Allah, sebab Allah sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi aku dan percaya, bahwa aku datang dari Allah. Artinya, demi Kristus pengantara kami itu sama sekali tak berarti bahwa kita minta kepada Kristus dan Kristus meneruskan permintaan kita kepada Allah. Begitulah pola pikir linear, yang kurang cocok dipakai untuk hidup beriman dan malah memuat bahaya diskriminatif dan eksklusif itu. Poin pentingnya bukan keperantaraan dalam arti linear itu, melainkan bahwa Allah mengasihi umat-Nya, yang mengasihi utusan Allah dan percaya kepada utusan itu.

Pe eR-nya: bagaimana orang menyadari kasih Allah itu dalam hidupnya yang carut marut. Lha sumonggo dijawab sendiri-sendiri sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing. Kalau jawabannya semacam “pret”, tentu soalnya bukan bahwa Allah tak mencintai manusia, melainkan orang tak sanggup membongkar gagasan dan ideologi semunya tentang cinta, tentang Allah, tentang hidup, dan sebagainya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin peka melihat cinta-Mu dalam sejarah hidup kami, juga yang tampaknya kelam dan gelap. Amin.


SABTU PASKA VI
27 Mei 2017

Kis 18,23-28
Yoh 16,23b-28

Posting Tahun 2016: Aaaaamiiiiiiinnnnnn…
Posting Tahun 2015: Isra’ Mi’raj nan Meneguhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s