Bunuh Teroris?

Kesenangan akan berlalu, kebahagiaan tinggal tetap. Katakanlah ini cuma soal istilah, maka yang penting orang mengerti bahwa ada kegembiraan yang laten sifatnya dan ada juga yang kontinjen (Inggrisnya: contingent, artinya sementara atau bisa ada bisa gak ada). Celakanya, kebanyakan orang mengejar yang kontinjen dan repotnya memang yang bisa dikejar cuma yang kontinjen itu. Kegembiraan yang laten tak bisa dikejar, cuma bisa disadari bahwa kegembiraan itu sudah ada di sini dan sekarang ini. Begitu orang bergerak keluar mencari apa yang tak ada di hadapannya, kesadaran akan yang laten itu meredup dan hasrat pada yang kontinjen itu meletup-letup.

Pertemuan yang indah terasa cepat berlalu, begitu juga pesta pora nan mengasyikkan atau kepuasan akan kemenangan atau keberhasilan timses pilkada, misalnya. Kegembiraan macam ini bergantung pada hal-hal di luar diri orang, entah peristiwa ataupun orang: jumlah jempol di medsos (yang bisa dimanipulasi oleh buzzer), jumlah pageviews, smileys dan sebagainya. Kiranya bukan kegembiraan jenis ini yang dimaksud dalam bacaan hari ini. Paulus nyaris pergi dari Korintus karena sebagian warga memusuhi dan menghujatnya. Ini bisa jadi gambaran akan kegembiraan yang rentan terhadap hal-hal di luar diri orang.

Syukurlah, tidurnya berbunga indah, yang meneguhkannya untuk tetap mewartakan kabar baik meskipun di sana-sini ada yang memusuhi dan memakinya. Peneguhan ini bisa jadi gambaran akan kegembiraan yang dilandasi persekutuan erat dengan Tuhan. Dalam keadaan itu, kegembiraan takkan bisa direnggut oleh apapun atau siapapun. Pantaslah ia pernah berkirim surat kepada orang-orang Roma begini: Siapakah yang akan memisahkan kita dari Cinta-Nya? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Memang bisa jadi seperti arogan: Kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
Akan tetapi, dalam terang paragraf awal tadi, bisa dimengerti bahwa poinnya bukan perang-perangan dan menang-menangan, melainkan bahwa relasi intim dengan Tuhan itu membuat hal-hal kontinjen tak berkutik, tak berdaya mengusik kegembiraan batin orang beriman.

Tilik saja misalnya status medsos teman kecil kita dari Banyuwangi (halah sudah SMA masih dibilang kecil) yang ditutup dengan kalimat: Dengan pistol kita bisa membunuh teroris, tapi dengan pemahaman agama yang baik kita bisa membunuh terorisme. Itu pun menjelaskan bahwa target utama orang beriman bukanlah menghabisi teroris, yang secara instingtif bisa masuk radar keinginan orang untuk balas dendam, melainkan mentransformasi hidup supaya terorisme tak lagi bisa memperdaya agama. Yang pertama bisa memberi sensasi kepuasan, marem, tetapi sifat kepuasan itu rentan karena munculnya dari pembunuhan. Yang kedua bisa juga memberi sensasi kepuasan dan sifatnya lebih langgeng karena muncul dari kedalaman batin.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu untuk mempertajam intuisi kami pada kegembiraan sejati. Amin.


JUMAT PASKA VI
26 Mei 2017

Kis 18,9-18
Yoh 16,20-23a

Posting Tahun 2016: Bahagia Yang Lupa Derita
Posting Tahun 2015: Produsen Kebahagiaan
Posting Tahun 2014: Demi Kebaikan, Jangan Takut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s