Mesti Takut, Gitu?

Dengan segala hormat dan doa bagi para korban (termasuk pelakunya yang jadi korban) bom bunuh diri tadi malam di Kampung Melayu, marilah mencerna proses kebangsaan juga melalui perpektif Hari Raya Kenaikan Isa Almasih dari bacaan yang disodorkan hari ini. Ceritanya simple: sebelas murid ke bukit yang sudah ditentukan. Bukit mana? Rupanya bukan bukit dalam artian lokasi fisik, melainkan bukit yang mengacu pada momen saat Nabi Isa menyampaikan dakwahnya. Saya tinggal percaya pada ahlinya saja bahwa kata-kata yang dipakai dalam bacaan hari ini maknanya bukan literal. 

Itu berarti berlaku quote of the day teman saya: Esensi iman, cinta, persahabatan, tak terlihat oleh bola mata, seindah apapun warnanya dan selentik apapun bulunya. Maka, bahkan ketika Nabi Isa itu mengklaim bahwa kepadanya diberi kuasa, kuasa itu pasti bukan kuasa dominatif seperti yang hendak ditunjukkan oleh pelaku bom bunuh diri dan petinggi-petingginya. Kuasa macam ini adalah kuasa jadul yang mengandalkan otot dan insting kematian. Maka dari itu, perintahnya kepada para murid untuk membaptis semua bangsa dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus pasti juga bukan tindakan ritual administratif untuk menambah jumlah orang Kristen (Katolik)! Itu omong kosong dan gombal amoh.

Sekali lagi, saya percaya pada ahli yang menguasai teks aslinya. Pembaptisan itu adalah immersion yang secara kasat mata berarti orang dibenamkan, dibenum, ditenggelamkan ke dalam sesuatu. Lha, kalau mata yang dipakai mata literal, sesuatu itu adalah air, minyak, kolam renang, kali, sumur, dan sejenisnya. Sayangnya, persis bukan itu yang disasar Nabi Isa. Bukankah dituliskan: membaptis semua dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, bukan dalam air (kolam renang)? Maka, ini catatan untuk Anda yang merasa diri sudah dibaptis hanya karena pernah ditenggelamkan di kolam renang atau sungai (Yordan sekalipun!) dan nama Anda dicatat sebagai anggota jemaat Gereja tertentu: Anda tersesat, tetot!

Perintah Nabi Isa senantiasa inklusif, tak terkurung pada batas agama tertentu. Bahwa bahasa teknis membatasi, betul, tetapi substansi perintahnya berlaku bagi semua: bahwa alih-alih kita menenggelamkan diri dalam drama teror (apalagi dengan menyebarluaskan foto korban untuk menyuapi gelojoh kepo orang), jauh lebih baik bahwa orang menaruh perhatiannya pada relasi pribadi dengan Allah Pencipta dengan bantuan Roh Kudus dengan bermodelkan Nabi Isa, misalnya. Teror itu bisa memakan korban siapa saja, kalau bukan Anda atau saya, ya dia atau mereka, tetapi tak akan menjadi horor bagi orang yang hidupnya adalah immersion dalam hidup bersama Allah tadi.

Sebelas murid adalah kelompok orang yang rapuh, bukan saja dari jumlah, melainkan juga dari tragedi yang baru mereka alami. Kenaikan Nabi Isa tidak membuat mereka jauh, tetapi justru dekat (teksnya sendiri mengatakan begitu: dia mendekati mereka yang sebagian ragu) dan kedekatan itu memuat tugas untuk membaptis tadi. Sekali lagi, bukan membuat orang jadi beragama Kristen (Katolik), melainkan membuat orang hidup dalam persekutuan dengan Allah, dan hidup bersekutu dengan Allah tak pernah mencederai kemanusiaan.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami dapat mengarahkan perhatian hidup pada pembangunan kemanusiaan daripada mencederainya. Amin.


KAMIS PASKA VI A/1
HARI RAYA KENAIKAN TUHAN
25 Mei 2017

Kis 1,1-11
Ef 1,17-23
Mat 28,16-20

Posting Tahun 2014: Kenaikan Tuhan Menuntut Keterlibatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s