Wong Kagol

Barangkali ada banyak wong kagol (vokal ‘o’ seperti pada kata kompor) dalam beragama. Ini istilah yang memuat nuansa kecewa, marah, putus asa, dendam sedemikian rupa sehingga orang tak mau melanjutkan sesuatu yang sudah dimulainya, bahkan mungkin mengambil jalan sebaliknya. Misalnya ada orang yang digadang-gadang jadi presiden, tapi di tengah jalan para penggadangnya membelot sehingga calon ini merosot elektabilitasnya, lalu entah karena apa para penggadangnya kembali lagi mendorong si calon ini tetapi sang calon tak mau lagi lanjut. Ini namanya kagol. Dalam politik kekuasaan, jarang sih orang jadi kagol. Kalah dalam pemilu tak menyurutkan niatnya untuk ikut pemilu lagi [wong masih punya duit].

Wong kagol dalam beragama lebih mengerikan. Dia bisa jadi sangat destruktif, dan ngerinya lagi wong kagol dalam beragama ini bisa sekaligus wong kagol dalam politik kekuasaan. Bayangkan orang terpaksa menganut agama tertentu dan punya duit yang bisa dimainkan untuk kekuasaan. Ini luar biasa mengerikan. Akan tetapi, tak usahlah saya membahas ranah politik kekuasaan. Lebih baik kita amati saja bagaimana orang-orang berpolah tingkah dalam keterpaksaannya beragama atau menolak beragama. Dua-duanya ya sebetulnya sama dalam prinsip: serba kagol. Ini yang kemarin-kemarin saya bilang oportunis: jadi atheis nanggung, beragama juga nanggung.

Kalau begitu, apa mesti jadi radikal? Iya, tetapi bukan radikalisme. Bedanya apa? Radikal berarti sampai pada yang prinsip. Kalau ditambahi -isme pengertiannya jadi mirip fundamentalisme: menganggap asesoris agama sebagai yang radikal. Apa sih yang radikal dalam agama kalau bukan relasi batin dengan Sang Pencipta? Di dalam diri setiap orang ada kebutuhan, impian, kehausan yang kadang kala disadari dan kerap kali tidak: pengenalan dan perjumpaan dengan Allah sebagai Cinta. Memang betul, orang beragama mengenal Allah secara kognitif atas dasar ajaran agamanya, bahkan begitu taatnya menjalankan seluruh perintah Allah. Orang ini bisa mengajar agama, menjadi pimpinan pusat ormas agama, dan jadi panutan ribuan atau bahkan jutaan orang.

Tahukah Anda bahwa itu semua bisa jadi wujud wong kagol? Di mana letak kagolnya? Persis pada ‘kegagalan’ untuk masuk dalam ranah afektif dari suatu agama, orang bisa jatuh dalam ekstrem kognitif dan aktivisme. Begitu orang dihadapkan pada disiplin rohani agama, ia malas, lalu memilih agama lain yang tak banyak tuntutannya, yang rasanya lebih nyaman, atau terpaksa tetap tinggal dalam agama tetapi tak pernah masuk dalam ranah afektif (karena jadi tak nyaman). Orang-orang seperti ini bisa membuat cuitan atau konferensi pers atau pernyataan yang destruktif mengenai orang-orang yang tak disukainya, bikin kisruh, menyemai benih kebencian baik dalam diri followersnya maupun hatersnya.

Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Paulus ditolak orang-orang Atena yang kagol dalam keagamaan mereka. Mengapa kagol? Ya itu, mereka politheis yang nanggung, tidak sungguh-sungguh mau masuk dalam Roh Kebenaran. Mereka membuat altar persembahan untuk dewa ‘yang tidak mereka kenal’, dan ketika diperkenalkan Allah YME yang mengatasi dewa-dewa itu, mereka berang; namanya juga wong kagol, tak usah dimasukkan hatilah omongannya!

Mari berdoa untuk wong-wong kagol dalam beragama supaya Allah memberikan hidayah-Nya juga melalui pergumulan hidup kita untuk mencinta sebagaimana Allah mencintai kita. Amin.


RABU PASKA VI
24 Mei 2017

Kis 17,15.22-18,1
Yoh 16,12-15

Posting Tahun 2016: Butuh Teman
Posting Tahun 2015: Roh Kudus Juru Blusuk

Posting Tahun 2014: Berhala Itu Bernama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s