Untuk Koh Ahok

Maaf saya pakai featured image Ibu Vero istri Koh Ahok tanpa seizin pemiliknya. Saya anggap Bu Vero milik semua (wueh enak aja!), fotonya yang di situs publik, maksudnya. Saya mau pakai foto ibu saya sendiri, tetapi apa daya, zaman gestapu dulu tak ada yang punya kamera selfie sehingga tak ada dokumentasi ibu saya menangis karena suaminya dijebloskan ke penjara Cipinang. Lagian, ibu saya juga tak sempat membuat konferensi pers, sibuk menulis paper untuk jurnal internasional, hahaha… [Maaf ini yang nulis giblik].

Bapak saya itu, tulang punggung keluarga, mesti mendekam di Cipinang karena peristiwa terbunuhnya maling yang sudah meresahkan warga sekian lama. Bapak saya termasuk yang ikut aktif merencanakan bagaimana menjebak maling itu dan memang berhasil. Sayangnya, yang tak ada dalam benak bapak saya ialah terjadinya penghakiman massal sehingga maling itu tak tertolong nyawanya. Bapak saya tidak membunuh maling itu, tetapi karena polisi meminta salah seorang bertanggung jawab atau seluruh warga kampung menanggung denda sejumlah tertentu, akhirnya bapak sayalah yang mengikhlaskan dirinya mendekam di penjara Cipinang.

Bacaan hari ini tidak menyinggung penjara Cipinang atau Mako Brimob. Ini soal penjara di Filipi, tempat Paulus dan Silas ditahan dan kepala penjara begitu stres karena mengira mereka melarikan diri pasca gempa hebat yang merusak pintu dan pasungan napi. Sang sipir hendak bunuh diri karena mengira Paulus dan Silas kabur, tetapi mereka mengurungkan niat sipir itu karena mereka memang tidak lari. Koh Ahok tak perlu lari ya; dah diem di situ aja. Ini memang tak enak, tapi keikhlasan bisa mengubah yang tak enak itu jadi hikmah luar biasa.

Bacaan kedua mengisahkan bagaimana Yesus jelas mengatakan kepada pengikutnya bahwa ia akan pergi dan kesedihan tentulah menyelimuti hati mereka. Kesedihan yang serupa bisa menimpa Bu Vero dan pendukung setia Koh Ahok dan ini reaksi yang mudah kita kenali: pada saat kita terikat pada sosok pribadi, ketika kita sudah begitu yakin bahwa hidup kita ini bahkan masa depannya bergantung pada seseorang, kita bisa begitu stres atau kecewa karena orang itu seakan meninggalkan kita, menginterupsi kisah yang sudah kita impikan, rencanakan. Kita seakan hanya bisa diam, terkurung dalam kesendirian dengan ramuan galau yang terdiri dari rasa ditinggalkan, ketakutan, kekecewaan, ketidakpastian, dan bisa jadi kemarahan.

Yesus bukannya tak peduli dengan ramuan galau itu, tetapi ia mengatakan,”Ini demi kebaikanmu juga! Selama aku bersamamu, kedekatanku denganmu terikat ruang dan waktu, tetapi kalau nanti aku sudah pergi dan Roh itu datang, Dia akan hidup dalam hatimu dan aku selalu bersamamu di manapun: dalam kerja, dalam keluarga, di depan majelis hakim, di depan lawanmu, di depan mereka yang mendukungmu… sehingga kalian bisa jadi dewasa.” Kata-kata ini tak cuma relevan untuk pendukung setia, tetapi juga bagi Koh Ahok sendiri, untuk senantiasa mengandalkan kekuatan Allah dan tafakur di hadapan-Nya.

Ya Tuhan, semoga kami semakin mampu berserah kepada-Mu tanpa kehilangan kecerdikan untuk menangkal aneka keculasan dalam dunia ini. Amin.


SELASA PASKA VI
23 Mei 2017

Kis 16,22-34
Yoh 16,5-11

Posting Tahun 2015: Perpisahan Mendewasakan
Posting Tahun 2014: Sakit Boleh, Menderita Jangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s