Bullying Bullying Kekasihku

Beberapa hari lalu dikabarkan ada seorang murid sekolah negeri yang melaporkan bullying atas nama agama kepada anggota DPRD Yogyakarta. Tentu ini bukan tahun pertama bullying atas nama agama. Kejadian seperti itu sudah berlangsung sejak lama dan tidak asing bagi saya juga. Jauh hari sebelum masuk sekolah negeri pun saya sudah diejek dengan aneka hal berkenaan dengan agama. Saya masih beruntung karena tak sampai ada pengucilan, tetapi bisa saya pahami kalau ada orang lain yang mengalami pengucilan sedemikian rupa sehingga tak nyaman lagi baginya untuk datang ke sekolah.

Dalam pergaulan saya sekarang, juga dengan teman-teman berbeda agama, saya masih bisa berkelakar juga dengan isu agama. Itu lantaran sebagian besar teman saya sudah menghayati agamanya lebih dari sekadar legalisme. Mereka bukan orang fanatik atau radikal, betapapun mereka rajin menjalankan ibadah. Akan tetapi, siapa yang bisa menjamin bahwa mayoritas pemeluk agama mayoritas terbebaskan dari benih fanatisme dan radikalisme? Dalam hal ini, kehati-hatian tetap diperlukan dan membalas bullying pasti bukan pilihan bijak, pertama tentu itu tidak klop dengan makna pengampunan yang disodorkan agama (silakan klik untuk membaca tautan tentang pengampunan sebagai upaya penyembuhan) sendiri dan kedua, balas dendam melanggengkan bullying.

Kasus bullying seperti ini tentu tak hanya terjadi di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama A, tetapi juga terjadi di wilayah yang mayoritas warganya beragama B. Itu bisa terjadi juga di wilayah yang mayoritas orangnya tidak beragama. Fanatisme dan radikalisme melampaui persoalan agama: ini soal ideologi dan psikologi orang yang memegang ideologi itu. Tak mengherankan catatan dalam bacaan hari ini: Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.

Catatan itu bisa dimengerti secara sederhana. Yang namanya minoritas ya dalemannya tak dikenal oleh mayoritas sehingga menjadi sesuatu yang asing. Pada masa itu jelas kekristenan belum menjadi kelompok mayoritas bahkan dalam bangsa Yahudi sehingga tak mengherankan mereka malah bisa jadi ancaman terhadap sistem kepercayaan bangsa Yahudi. Maka, kalau mereka mengejar-ngejar orang Kristen, itu tentu juga ada dalam asumsi bahwa mereka sedang menjalankan perintah Allah yang mereka sembah.

Meskipun demikian, sekarang ini aneh jika orang belum paham juga bahwa Allah yang Maha Esa itu bisa omong dengan kendaraan agama manapun dan de facto Dia bicara lewat agama-agama yang ada, yang berbeda-beda itu, bahkan bisa jadi bertentangan. Dalam situasi itu, diharapkan manusia tak lagi mengandalkan ideologi, melainkan Roh Kebenaran yang keluar dari Allah. Lha apa dong Roh Kebenaran dari Allah itu? Bukankah nanti bergantung pada tafsiran masing-masing agama? Gak juga sih. Roh itu ditangkap dalam dialog yang menuntun setiap orang kembali pada jati diri kemanusiaan. Setiap orang perlu jujur pada nuraninya mengenai kemanusiaan yang adil dan beradab, yang memerlukan empati untuk sekadar merealisasikan golden ways… eh golden rule: kalau kamu gak mau mengalami hal buruk itu terjadi padamu atau keluarga atau orang-orang dekatmu, ya jangan membiarkan dirimu melakukan hal buruk kepada orang lain dong.

Ya Tuhan, bebaskanlah hati kami dari benih-benih radikalisme dan fanatisme. Amin.


SENIN PASKA VI
22 Mei 2017

Kis 16,11-15
Yoh 15,26-16,4a

Posting Tahun 2016: Terpaksa Sekolah? 
Posting Tahun 2015: “Maling” Tuhan

Posting Tahun 2014: Beriman tapi Gembira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s