Teroris Tetot

Salah satu tantangan besar umat beragama dalam sejarahnya ialah untuk kabur dari kenyataan, kabur dari dunia [yang sudah saya singgung fuga mundi pada posting terdahulu, juga dalam posting dengan pijakan teks lain Warga Dunia Baru]. Apa artinya kabur dari realitas? Termasuk di dalamnya: mau membangun dunia seturut imajinasinya sendiri, untuk memaksakan politik kemasyarakatan sesuai dengan hukum agamanya sendiri, membangun negara seturut Kitab Sucinya sendiri, dan seterusnya.

Dosen saya memberi ilustrasi sederhana mengenai orang yang tercerabut dari realitas begini. Dua orang bertetangga, beda agama, bertahun-tahun hidup bertetangga baik-baik saja sampai salah satu mendapat wangsit dari tokoh agamanya dan hubungan dua orang itu jadi berubah karena framing yang berasal dari tokoh agama itu. Yang semula hidup konkret secara wajar bertetangga, berubah jadi aneh karena prasangka berlabel agama. Di situ kelihatan bahwa agama dianggap lebih penting daripada kenyataan hidup bertetangga.

Loh, bukannya memang nilai agama itu lebih tinggi dari tatanan masyarakat, Mo?
Gombal amoh preeeet!
Ih, Romo ini kasar.
Gak juga, sudah lama saya dengar dan menirukan dodoli dodoli pret dan gak ada yang bilang kasar. Mosok hanya karena e-nya banyak jadi kasar?
Ya wis, tapi dengan itu Romo mau menyangkal nilai agama di atas tatanan masyarakat, bukan?
Betul, Anda layak dapat galaksi!

Kalau Anda hidup di wilayah yang semua agama penduduknya tetot, bangunannya ala tetot, binatangnya tetot, banknya tetot, pengelolaan limbahnya tetot dan seterusnya, silakan kembangkan tatanan masyarakat berdasarkan agama tetot. Silakan saja, mungkin malah seharusnya begitu. Akan tetapi, pun jika tatanan masyarakat tetot itu memajukan dan membahagiakan warga ibu kotanya #eh, itu gak bisa begitu aja ditransplantasikan ke wilayah lain. Kalaupun bisa, sewajarnya lewat dialog, bukan dengan cara-cara teroris tetot.

Cara-cara teroris tetotlah yang menunjukkan secara jelas akibat dari menempatkan nilai agama di atas tatanan masyarakat yang ada. Nilai-nilai agama dalam realisasinya mesti berbenturan dengan nilai-nilai lain dan dari benturan itu mesti ada adaptasi. Kalau orang takut pada adaptasi ini dan maunya jalan pintas untuk membela agama tetot, ia jadi pengecut dan secara teoretis jatuh dalam kontradiksi. Ini contoh karikatural kontradiksi teroris tetot:

Orang-orang di sekeliling saya, NU, Muhammadiyah, GKI, GKJW, Katolik, Hindu, Buddha, penghayat kepercayaan, dan sebagainya, rupanya bukan kelompok pengecut seperti teroris tetot itu tetapi mereka lebih serius dalam menjawab persoalan yang disodorkan dalam teks bacaan hari ini: bagaimana Sabda Allah, yang tak otomatis diterima dunia ini, bisa ditaburkan dan penaburnya diridai, dilindungi Allah sendiri. Ini bukan soal mengubah tatanan masyarakat dengan tatanan agama, melainkan soal membumbui tatanan masyarakat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ditimba dari agama (karena agama toh bikinan manusia juga).

Meskipun demikian, setiap orang beragama tetap perlu awas terhadap dirinya sendiri, siapa tahu benih-benih teroris tetot itu tumbuh dalam dirinya. Salah satu tolok ukurnya ya attachment, yang cenderung mendorong orang untung maksa, tak membiarkan yang lain mengambil keputusannya sendiri. 

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami tak memelihara semangat teroris tetot. Amin.


RABU PASKA VII
16 Mei 2018

Kis 20,28-38
Yoh 17,11b-19

Posting 2016: Cagar Buaya
Posting 2015: Terlibat, Tidak Regresif, Tidak Agresif

Posting 2014: The Spirit, He Knows Better…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s