Oposisi Lemah

Ini hipotesis doang. Dulu lambannya kemajuan bangsa ini terjadi karena tak ada oposisi (saking kuatnya diktator itu), sekarang terjadi karena kelemahan oposisinya, yang tidak fokus pada apa yang semestinya jadi tugasnya.

Lha emang tugasnya apa? Bukankah sewajarnya oposisi menjatuhkan penguasa sehingga sah-sah aja kalau mempromosikan #2019gantipresiden? Namanya juga oposisi. Maka, tak mengherankan toh kalau kegagalan pemerintah menangkal terorisme mesti dibebankan pemerintah yang lalai? Betul. Akan tetapi, sekali lagi, dari perspektif ilmu pinggiran: roh jahat bisa mengambil argumentasi yang baik, wong dia bisa menyamar sebagai roh baik! Orang bisa saja mengutuk terorisme sementara ia terlibat di dalamnya.

Roh baik itu bisa berlabel wakil rakyat, dewan kehormatan, agama atau apalah. Akan tetapi, label baik tak selalu menempel pada isi yang baik (karena orang bisa mengondisikan supaya bisa dapat atau masuk ke label itu). Tahu isinya baik ato enggak dari mana? Dari motifnya susah (karena itu tadi, label baik bisa jadi manifestasi roh jahat). Paling mungkin ya dari proses atau prosedur dan (arah) hasilnya ke mana.

Mari kita selisik kasus barusan. Terorisme nongol, dan oposisi menuding pemimpin lemah. Pemimpin ini siapa? Bisa macam-macam, bergantung orang mau menafsirkannya gimana, tetapi karena oposisi ini lantang dengan #2019gantipresiden, presiden sekarang bisa dimasukkan dalam kategori pemimpin yang dimaksud. Apakah tudingan itu ngawur? Bisa jadi ada benarnya, tak perlu orang gelap mata jadi fanatik fundamentalis membela presiden.

Meskipun demikian, kalau mau konsekuen dengan teori leadership mutakhir, kategori pemimpin tidak identik dengan posisi atau jabatan orang. Dengan kata lain, si penuding dan para anggota kelompok oposisi juga bisa masuk dalam kategori pemimpin. Itu yang luput dari perhatiannya, persis karena karakter leadership absen dari dirinya. Jadi, ceritanya menepuk air di dulang begitulah. Kenapa? Karena ‘pemimpin lemah’ itu adalah cerminan dirinya sendiri. Apalagi kalau ternyata soal terorisme itu ada kaitannya dengan tugas si penuding ini; tapi tak usahlah saya bahas soal itu. 

Saya lanjutkan persoalan tadi saja: gimana tahunya wakil rakyat menjalankan tugasnya atau tidak. Ini bukan soal jobdes. Wakil rakyat yang oposisi mestinya menjatuhkan penguasa bukan dengan menuding-nuding kelemahan penguasa, apalagi berkonspirasi mengacaukan negara [ini mengerikan dan menjijikkan], melainkan dengan membangun kepercayaan rakyat berdasarkan kerja nyatanya. Lha nanti biar rakyat sendiri yang mencabut amanat dari penguasa kalau memang amanat itu tak dijalankan seturut kepercayaan rakyat. Begitu kan prosedur semestinya? 

Kalau melihat situasi sekarang, jelaslah oposisi bertujuan menjatuhkan penguasa dengan shorcut, bukan dengan membangun kepercayaan rakyat; itu mengapa setelah ganti rezim pun perkembangan negeri ini tak bisa melesat with ease. Itulah maksud judul oposisi lemah, yang tak kuat membangun kepercayaan rakyat dengan kerjanya, lalu merecoki kinerja pemerintah supaya pemimpinnya lengser.

Saya kutipkan insight dari John Howard Yoder: Good society in a sinful world is by definition impossible. Entah penguasa, entah oposisi, seyogyanya menyadari hal itu dan lebih realistis: We need only to do small acts of justice. Kiranya itu yang diridai Allah, bukan panggung rebutan kuasa (apalagi dengan pertumpahan darah). 

Tuhan, mohon kekuatan untuk adil sejak dalam pikiran kami. Amin.


HARI SELASA PASKA VII
15 Mei 2018

Kis 20,17-27
Yoh 17,1-11a

Posting 2017: Tanggung Nih
Posting 2016: Susahnya Sederhana

Posting 2015: Pengetahuan Tertinggi
Posting 2014: Memuliakan Tuhan, Mangsudnyah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s