Bayu Riyanto

Judul posting kok nama orang, yang saya pun tak kenal. Saya kenal Bayu Ri*anto, penggumul soal iklim di ladang jagung nan luas nun jauh di sono. Meskipun tak kenal, tetapi gabungan dua nama orang itu saya ambil untuk menolak lupa akan cinta Tuhan yang begitu besar kepada dunia.

Kalau mengikuti urutan waktu, Riyanto, nama belakang lebih dulu muncul. Dialah anggota Banser NU yang meninggal karena bom di Gereja Kristen di Mojokerto, Jawa Timur. Komentar mengenainya sudah saya tulis dalam posting Hidup sebagai Hadiah. Nama depan, Bayu, baru nongol kemarin setelah peristiwa bom di beberapa gereja di Surabaya. Screenshot statusnya mengindikasikan semangat dalam dirinya untuk menjalankan tugas (benar-benar) negara. Dengan segala hormat bagi istri dan anaknya yang mungil, kiranya tangan Tuhan lebih perkasa lagi untuk menjaga mereka yang ditinggalkan.

Baik Bayu maupun Riyanto, bisa jadi sudah punya bayangan skenario terburuk dalam pelayanan mereka. Akan tetapi, mereka sebetulnya bisa lari meninggalkan pilihan berisiko kematian itu. De facto, bukan pilihan itu yang mereka ambil, dan justru karena itulah saya mengabadikan Bayu Riyanto sebagai sosok pewarta Kabar Gembira, kalau tidak boleh menyebut Injil, yang disodorkan pada hari ini: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Kalimat itu, dengan konteks hidup Bayu Riyanto, memang segera diasosiasikan dengan keyakinan bahwa sahabat terbaik ialah dia yang berani mati demi sohib-sohibnya. Akan tetapi, saya tidak hendak mengarah ke sana, seakan-akan Anda semua mesti menjadi sahabat terbaik dan berbondong-bondong mendaftar sebagai anggota Densus 88 lalu mencari teroris untuk menghantam mereka dengan risiko mati terkena bom. Kalau Anda memang sudah masuk dalam detasemen itu, ya bisa jadi alurnya begitu, tetapi itu bukan nuansa omongan saya.

Saya hendak melihat ‘memberikan nyawa bagi sahabat-sahabat’ dalam kerangka yang lebih inklusif, yaitu kerangka persahabatan dengan Tuhan. Pada kenyataannya, Bayu meninggal bukan hanya demi anak istrinya. Ada hal yang melampaui romantisme cinta konyugal atau kekeluargaan itu. Ini adalah cinta yang diletakkan dalam keluasan cinta Tuhan sendiri. Memilukan, memang, tetapi begitulah memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya ketika Tuhan menjadi salah satu sahabatnya.

Tapi, Mo, bukannya para teroris sekeluarga itu memberikan nyawa bagi Tuhan juga? Romo mau bilang bahwa memberikan nyawa itu soal menginternalisasikan Sabda Tuhan dan melaksanakannya, bukan?
Anda layak dapat bintang, bisa menebak pikiran saya! Akan tetapi, Anda tak bisa memasukkan teroris ke dalam bilangan orang-orang yang melaksanakan kehendak Tuhan karena sudah ditegaskan dalam konteks bacaan hari ini bahwa kehendak Allah terletak pada tindak ‘saling mengasihi’. Di mana saling mengasihinya kalau orang dengan darah dinginnya membunuh sesama dan diri sendiri? Jelaslah saling mengasihi tidak identik dengan saling membunuh.
Kalau begitu, para pelaku teror itu masuk neraka ya, Mo? Bacalah ulang Jalan Gabener.

Bayu Riyanto mengingatkan saya pada cinta sejati: menghadiahkan hidup bagi-Nya dalam wujud saling mengasihi, menghargai kehidupan. Kalau Tuhan sungguh adalah sahabat kita, kepada-Nya juga kita mau memberikan hidup kita. Tanpa kesediaan memberikan hidup, mungkinkah muncul persahabatan sejati?

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin dapat bersahabat dengan sesama dan terutama dengan-Mu. Amin.


PESTA S. MATIAS RASUL
(Senin Paska VII)
14 Mei 2018

Kis 1,15-17.20-26
Yoh 15,9-17

Posting 2016: Wanita Hebat
Posting 2014: Berjudi dengan Kehidupan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s