Dear Pemuka Agama Tetot

Dear para pemuka agama tetot,
Perkenankanlah saya sebagai pemuka agama totot mengudar rasa kepada Anda sekalian. Tentu saja, sambung rasa ini sebetulnya juga berlaku bagi pemuka agama tetet, titit, tutut, dan tak lupa tatat. Mau tambah tatitutetot juga boleh, pokoknya pemuka agama.

Rasa geram ada dalam diri saya setelah peristiwa pagi tadi karena saya cupet dengan jalinan kepentingan politik yang berkelindan dengan kepentingan lain yang tak saya ketahui. Geram karena saya tak bisa memahami apa yang sedang terjadi di negara ini dan aneka ulasan spekulatif bisa dimunculkan. Saya tak akan menambahinya dengan spekulasi lain. Saya masih percaya pada niat baik pemerintahan sekarang ini, sekurang-kurangnya satu orang itu, yang sedang digoyang dengan #2019gantipresiden.

Saya memendam rasa grêgêtan karena dulu mendengar ada banyak warga pulang dari markas teroris dan seakan tak ada proses apapun terhadap mereka; seakan-akan gagasan radikal-fundamentalis itu bisa sirna hanya dengan berpindah ke negara asal. Rasa geram itu bergandengan dengan rasa miris karena tak lama setelah peristiwa itu saya mendapat tayangan pernyataan Anda, pemuka agama tetot, yang berkali-kali menegaskan bahwa terorisme itu bukan dari agama tetot.

Kenapa saya merasa miris dengan tayangan pernyataan Anda itu?
(1) Karena pernyataan itu terkesan tidak berangkat dari mawas diri, tetapi justru seakan-akan hendak membesarkan agama tetot, yang tidak mengajarkan terorisme. Lha ini tragedi kemanusiaan kok malah Anda pakai untuk membela agama? Bukankah ini saat untuk membela kemanusiaan? Apa Anda mengira pemeluk agama tatitutetot di Indonesia ini berpikir bahwa agama tetot mengajarkan terorisme sehingga Anda merasa perlu menangkisnya?
(2) T
erus terang, ketika Anda mendoakan pelaku terorisme supaya Tuhan menghancurkan mereka sebagaimana mereka menghancurkan tempat ibadat dan bla bla bla… saya sebetulnya ingin bertanya: sadarkah Anda bahwa pola pikir itulah yang ada dalam benak pelaku terorisme? Mosok sih Anda sampai hati mohon kepada Tuhan supaya pelaku teror itu hidupnya dihancurkan Tuhan? Doa macam apakah itu?

Tentu saja, saya bisa mengerti bahwa bisa jadi, seperti saya, dalam diri Anda muncul rasa geram, kêmropok; sudah capek-capek dari Sabang sampai Merauke mewartakan agama tetot kok ya dirusak oleh orang yang atributnya identik dengan agama tetot. Pernyataan Anda yang kontradiktif itu bisa saya terima sebagai ungkapan kegeraman atau gemas.

Akan tetapi, menerima kan tidak sama dengan menyetujui ya. Kalau boleh usul, ada baiknya kita mawas diri, jangan-jangan kita itu inkonsisten atau jauh panggang dari api. Repot kan kalau di satu sisi kita mewartakan agama damai tetapi memberi contoh harapan doa kepada Allah untuk membinasakan orang lain? Sejahat-jahatnya orang, di kedalaman hatinya masih ada setitik yang cukup bagi Allah untuk menyematkan hidayah-Nya.

Lagipula, siapa sih pelaku teror sebenarnya? Apakah ibu bercadar dan anaknya? Ataukah mereka ini juga korban terorisme? Mengapa pula orang seperti ini mesti dihujat masuk neraka? Siapa pelaku teror sesungguhnya?

Di medsos berseliweran status yang insinuasinya sangat kuat bahwa penuturnya memiliki paradigma kutuk tadi: biar saja penganut agama tatitutetot itu dihabisi, darah mereka sah untuk dimuncratkan, dan seterusnya. Itu ungkapan ekskplisit yang di baliknya juga tersembunyi harapan seperti yang Anda sampaikan tadi: supaya orang lain dihancurkan Tuhan sebagaimana mereka menghancurkan agama bla bla bla.

Terakhir, ini bukan nasihat, melainkan berbagi keyakinan: kehebatan seseorang, suatu bangsa, agama, kelompok, atau lembaga terletak pada bagaimana ia secara bermartabat memperlakukan kaum lemah, minoritas, disable, tersingkir. Ini sudah ditunjukkan oleh para nabi, yang tak akan pernah berkongkalikong dengan penguasa yang korup, melainkan membela kaum lemah.

Sampai di sini saja curcolnya. Semoga berguna. Amin.

2 replies

  1. Saya nggak tahu mulai kapan saya memperhatikan tiap postingan blog ini dengan sungguh-sungguh. Sejak itu juga, tiap postingannya selalu saya tunggu. Menemani saya dalam proses berpikir dan belajar. Terima kasih untuk tulisan-tulisannya. Salam kenal 🙂

    Like

    • Halo mbak Yuni, terima kasih banyak atas perhatiannya. Saya ikut senang kalau ada hal yang bisa dipetik dari tulisan saya.
      Saya follow blog mbak Yuni beberapa waktu lalu juga karena pada blog itu ada menu sastra, yang saya suka meskipun saya tak piawai di situ. Saya harap mbak Yuni terus berkarya di situ, juga dengan publikasi media cetak, karena sastra mampu menguak dunia yang bisa jadi tak tersentuh oleh wacana seperti yang saya buat. Salam kenal juga, tetap semangat, saling doakan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s