Jalan Gabener

Saya percaya Anda pernah menonton klip video di bawah ini. Kalau belum, ya silakan nonton, kalau mau, gitu aja kok repot.

Si anak kecil itu papanya ateis, tetapi membiarkan anak-anaknya dibaptis secara Katolik. Si papa meninggal, dan sang anak cemas bahwa papanya tidak masuk surga. Si Paus Fransiskus menyampaikannya ke publik, termasuk anak-anak: apakah Allah mengabaikan orang seperti papa Emanuele ini? Mereka menjawab serentak,”Tidak!”

Gagasan macam itulah yang juga nuansanya ada dalam teks bacaan hari ini, yang pada bagian tertentu perlu diwaspadai karena problem terjemahan: Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa. Yang saya garisbawahi, itulah yang perlu diwaspadai karena bisa membangun gagasan dalam kepala orang bahwa ada takdir bahwa si A masuk neraka dan si B masuk surga. Terjemahan yang lebih tepat, menurut tetangga sebelah yang ahli filologi, ialah “anak kebinasaan”, yang berarti orang yang memilih jalan gelap, jatuh dalam kegelapan, jalan gabener, tak tertolong lagi oleh orang baik yang berniat membantunya.

Dalam hidup sehari-hari bisa dijumpai bagaimana orang, entah sadar atau tidak, memilih posisi sesat bahkan meskipun yakin pilihannya benar. Kalau mengikuti alur doa yang disodorkan teks bacaan hari ini, terhadap pribadi yang seperti itu, memang akhirnya dipasrahkan saja kepada kemurahan hati Allah.
Tidak berlaku sebaliknya (sebagaimana sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa roh jahat bisa menyamar sebagai roh baik, dan tidak sebaliknya): yang memilih posisi sesat juga akan memandang pihak lain sebagai pihak yang sesat (yang mengkriminalisasi pemuka agamalah, yang mendiskreditkan agama mayoritaslah, dan lain sebagainya), tetapi diikuti dengan hasutan, provokasi, bahkan bom untuk melabrak pihak seberang.

Itu bedanya. Dua-duanya sama-sama mengklaim diri benar, sama-sama ‘membela Allah’, tetapi beda output. Yang di trek sungguh-benar akan menawarkan belas kasih Allah yang Maharahim, yang bisa memberi hidayah. Yang di trek berasa-benar akan berupaya memojokkan pihak lain. Rasa saya, #2019gantipresiden itu lebih bernuansa memojokkan daripada mengundang orang untuk membangun bangsa besar ini. Lha piye, alih-alih bantu menangkal terorisme, malah nambahi teror dengan agitasi berbau agama.

Ya Tuhan, kami mohon hidayah-Mu bagi semakin banyak orang di negeri kami untuk lebih memikirkan pembentukan bangsa yang berkeadilan sosial lebih daripada berebut kekuasaan. Amin.


MINGGU PASKA VII B/2
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
13 Mei 2018

Kis 1,15-17.20a.20c-26
1Yoh 4,11-16
Yoh 17,11b-19

Posting 2015: Bukan Pupuk Bawang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s