Doa Kerja 3.0

Saya punya guru yang mengajari saya berdoa dengan perbuatan, tetapi perbuatan ini bukan jingkrak-jingkrak tepuk tangan ria puji Tuhan halleluya angkat tangan kanan dan goyangkan kaki kiri dan semacamnya. Sangat kontras dengan itu, perbuatannya justru natural seiring dengan apa yang jadi tugas atau tanggung jawab pendoanya.

Ia mengistilahkan doa jenis itu sebagai contemplativus in actione (bacanya kontèmplativus in aksioné). Ini jenis doa dalam tahap akhir, yang IMHO, tak bisa dilakukan begitu saja tanpa melalui tahapan lain. Tentu orang yang mengusahakan shortcut langsung ke model contemplative in action itu. Hasilnya: ngelamun penuh lanturan di saat semestinya bekerja atau tak berdoa sama sekali pada saat doa formal.

Gak paham kan maksud saya? Ya jelaslah, kelihatan plonga-plongo gitu kok.
Saya jelaskan lewat moto yang lebih terkenal: ora et labora. Artinya berdoa(lah) dan bekerja(lah). Umumnya orang memahami moto ini sebagai undangan untuk menyeimbangkan doa dan kerja. Katakanlah kerja 40 jam seminggu, doanya 10 jam seminggu; seperti campuran semen-pasir-air gitulah supaya kokoh baiknya gimana: 4:1, 3:100, 2:7 (kok jadi kek rasio bursa taruhan sih?). Dengan begitu, yang digolongkan kerja adalah aktivitas jam kerja, dan yang dianggap doa ialah aktivitas ibadat atau ritual liturgi, termasuk di dalamnya devosi pribadi (doa sebelum-sesudah makan, rosario, novena, dan sejenisnya).

Contemplativus in actione tadi tak bisa dimengerti dengan moto ora et labora. [Lha wong gak bisa kok ya malah pakai menjelaskan ora et labora segala!] Hanya kalau ora et labora dipahami secara berbeda, bukan sebagai komposisi bumbu penguat rasa atau campuran beton, mungkin bisa jadi perspektif untuk memahami doa yang diajarkan guru saya tadi. Doa dalam kerja mungkin lebih mendekati maksud contemplativus in actione tadi.

Akan tetapi, bagaimana mungkin orang berdoa dalam kerjanya? Bukankah itu malah jadi gangguan dalam kerja? Mosok tengah serius-seriusnya mengerjakan soal dan tau-tau thèng jam 12, njuk Anda tinggalkan pekerjaan itu untuk berdoa?
Ya saya juga tidak bilang begitu, dan saya juga tidak melakukan hal seperti itu.

Doa dalam kerja berarti kesadaran orang akan hidup di hadirat Allah itu ditingkatkan sehingga kerjanya justru lebih fokus, supaya kerjanya itu sungguh-sungguh AMDG. Kuncinya memang kesadaran; itu mengapa meditasi ala Buddhis bisa membantu, bukan supaya orang memeluk agama Buddha, melainkan supaya orang semakin mampu kontak dengan realitas. Semakin kesadaran ini terasah, semakin doa orang terintegrasi dengan kerjanya.

Dalam integrasi itu, rasa syukur dan cinta atas anugerah Allah memotivasi orang, menggerakkan orang untuk kerja, kerja, dan kerja. Ini juga pasti bukan kerja dalam arti aktivitas delapan jam sehari (yang konon belum tentu membuat orang jadi kaya). Kerja ialah soal realisasi cinta Allah tadi: suatu bonum commune. Maka, doa dalam kerja berarti God-consciousness dalam kerja, bonum commune jadi kerangka kerja. Itu mengapa presiden ini getol menggenjot penyelesaian infrastruktur #loh.

Tanpa kesadaran tadi, entah orang komat-kamit di depan pohon atau sembah sujud di depan altar atau jingkrak-jingkrak dengan iringan band rohani plus lighting dahsyat, tidak ada doa di situ, tidak pula kerja. Adanya wasting time: waktu kerja ngelamun, waktu doa ngelantur

Tuhan, mohon rahmat kesadaran akan hadirat-Mu senantiasa. Amin.


SABTU PASKA VI
12 Mei 2018

Kis 18,23-28
Yoh 16,23b-28

Posting 2017: God Loves You
Posting 2016:
Aaaaamiiiiiiinnnnnn…

Posting 2015: Isra’ Mi’raj nan Meneguhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s