Toleran Anak Yang Manis?

Dalam konteks terorisme, teks bacaan hari ini seakan bicara gamblang: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira. Ini bukan soal mengelompokkan orang ke dalam partai Allah dan partai setan, apalagi soal agama Allah dan agama setan, melainkan soal siapa yang berempati terhadap siapa atau apa. Di medsos bisa diamati aneka reaksi terhadap kerusuhan di Mako Brimob kemarin; mulai dari yang menganggapnya rekayasa penguasa, sampai yang menyalahkan POLRI. Dari komentar-komentar itu juga bisa ditengarai komentatornya berempati terhadap apa atau siapa.

Terlepas dari komentar-komentar yang bisa bikin gemes atau kemropok itu, barangkali ada baiknya dilihat batas toleransi terhadap penderitaan. Masih ingat toh posting Sakit Boleh, Menderita Jangan? Itu himbauan saja. Setiap orang boleh saja menderita karena toh ia mesti punya toleransi terhadap penderitaan, baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain. Misalnya, orang yang menunggu sesuatu atau seseorang itu dalam arti tertentu ya menderita, tetapi ia mesti punya toleransi dan penderitaan itu masih dipandangnya perlu. Perlu sedikit menderita demi menunggu hadiah, sembako gratis, pendekatan humanis, dan sebagainya.

Meskipun demikian, orang beriman tahu membedakan antara penderitaan yang perlu dan penderitaan yang gak perlu. Bisa jadi sekali waktu ia menanggung penderitaan yang gak perlu, tetapi ia tidak akan mengumbar penderitaan yang gak perlu itu.

Seperti apa penderitaan yang gak perlu itu? Ya seperti kesusahan yang ditimbulkan oleh kecerobohan, kebebalan diri sendiri. Contoh konkretnya silakan cari sendiri-sendiri karena toh masing-masing dari Anda punya ketololannya sendiri-sendiri, saya juga sih. Zaman jebot dulu ada orang yang suka menyiksa diri demi perkembangan kerohaniannya, tetapi lama-lama bentuk seperti itu tak lagi relevan selain untuk mengejar kesalehan pribadi.

Zaman now ini kesalehan pribadi tak memadai. Bahkan, lebih ngeri lagi, kesalehan pribadi itu bisa jadi alat ampuh bagi mereka yang punya kepentingan politik tertentu. Biar bisnisnya menjulang, orang memanfaatkan label agama; pasti orang yang pikirannya cuma surga-neraka akan terciduk oleh bisnis ini. Bisnis ini tak melulu ekonomi ya, Bang, bisa juga bisnis agama dan kekerasan.

Yang begitu itu bikin penderitaan yang gak perlu, baik diri sendiri maupun orang lain. Baru saja terpapar tindakan biadab yang menunjukkan intoleransi terhadap kemanusiaan. Cuma gara-gara duit beberapa puluh ribu, cuma gara-gara makanan, orang bisa membabi buta melanggar perikemanusiaan. Yang seperti ini tak perlu diberi toleransi. Artinya, jangan biarkan intoleransi, atau jangan toleran terhadap intoleransi.

Tak pernah ada terorisme yang menjunjung tinggi toleransi, karena paham itu sendiri sudah intoleran. Artinya, kalau orang atau lembaga memberikan toleransi terhadap terorisme, ia malah ikut membiarkan, memberi kesempatan bagi intoleransi untuk bertahan atau bahkan berkembang. Memang ini susah, tak semudah berkomentar di medsos, maka orang atau lembaga perlu terus mentransformasi diri.

Semoga tragedi Mako Brimob ini jadi momen untuk mentransformasi penderitaan. Bagi murid beriman, penderitaan (yang perlu), tak akan dihilangkan, tetapi dipakai untuk mentransformasi hidupnya dengan harapan dan cinta yang tak membiarkan gerakan intoleran berkembang.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mampu membedakan penderitaan yang sia-sia dan penderitaan sebagai konsekuensi cinta-Mu. Amin.


JUMAT PASKA VI
11 Mei 2018

Kis 18,9-18
Yoh 16,20-23a

Posting 2017: Bunuh Teroris?
Posting 2016: Bahagia Yang Lupa Derita

Posting 2015: Produsen Kebahagiaan
Posting 2014: Demi Kebaikan, Jangan Takut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s