Farewell Party?

Kalau Anda punya teman orang Katolik atau Kristen, cobalah tanya apa yang mereka rayakan pada hari libur ini, yaitu hari kenaikan Tuhan. Saya yakin mereka sebetulnya gak tahu sedang merayakan apa. Paling-paling dijawab seperti tertera di kalender: merayakan kenaikan Isa Almasih ke surga. Padahal, justru itu pertanyaannya.

Menurut perasaan saya, orang biasanya memestakan suatu kedatangan, bukan kepergian. Pesta kepergian itu biasanya berlaku untuk sekolah pada saat kelulusan, entah ketularan kultur dari mana. Saya dulu pernah dengar frase ironis: pesta perpisahan. Kalau itu betul suatu pesta, pasti gak enak suasananya. Peristiwa di Mako Brimob kemarin, di satu sisi rasa salut bisa dilekatkan pada petugas negara yang gugur, di lain sisi aneka reaksi atas kepergian mereka bisa menyisakan duka dan keprihatinan mendalam.

Apakah memberi label pahlawan kepada mereka yang gugur itu menghapuskan keprihatinan dan duka mendalam? Tidak. Ada hal yang jauh lebih penting, yang hari ini dirayakan sebagai kenaikan Isa Almasih.
Balik lagi ke sekolah, pesta perpisahan hanya berarti bahwa orang sudah lulus dan mesti memulai tahap baru. Dua-duanya bisa dipadukan karena subjek pelakunya sama.

Akan tetapi, pada kasus Mako Brimob dan kenaikan Isa Almasih ini, subjek pelakunya beda. Yang dirayakan bukan bahwa mereka itu naik ke surga, melainkan bahwa orang-orang yang merayakannya mesti memulai tahap baru tanpa mereka. Tentu, tidak total ‘tanpa mereka’, tetapi sudah dengan konstelasi hidup yang berbeda dari sebelumnya. Pokoknya, pestanya untuk orang yang mesti memulai tahap baru, bukan mereka yang pergi.

Tak mengherankan, teks bacaan hari ini, Markus, tak berakhir dengan ayat 19 (Yesus terangkat ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Siapa jal yang bisa melihat itu? Sebelah kanan Allah tuh dilihat dari mana?). Ini adalah kisah dengan open ending yang tampak pada ayat 20: mereka pun pergi ke segala penjuru mewartakan kabar gembira. Kisah diakhiri dengan suatu keberangkatan, bukan keberangkatan Isa ke surga, melainkan keberangkatan para muridnya ke seluruh penjuru dunia.

Jadi, perayaan kenaikan Isa Almasih justru bukan hore-hore bahwa Isa Almasih naik ke surga (yang berarti buat Isa Almasih sendiri tetapi gada artinya buat orang hidup di dunia ini), melainkan semangat #DiaSibukKerja untuk menularkan kabar gembira ke seluruh pelosok Nusantara, kepada seluruh bangsa. As one journey ends, another one begins. Dalam kerangka itu, kenaikan Isa Almasih bisa dimengerti. Hanya orang yang punya semangat #DiaSibukKerja itulah yang sungguh tahu apa artinya merayakan kenaikan Isa Almasih. Kalau tidak, orang itu cuma robot agama, eksekutor agama robot

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk memulai tahap baru hidup kami, juga pada saat seakan-akan Engkau absen dalam hidup ini. Amin.


Hari Raya Kenaikan Tuhan B/2
Kamis, 10 Mei 2018

Kis 1,1-11
Ef 4,1-13
Mrk 16,15-20

Posting 2015: Korban Mei 98 Naik Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s