Gaya Baru

Dulu kadang saya membeli barang lewat toko online karena harganya sinting. Ada saja orang yang baru punya gawai sekian bulan lalu menjualnya dengan harga yang too good to be true. Pernah dengan modal €900 saya membeli barang yang harganya €2500. Setelah saya periksa, baru dipakai sekitar 2000 jepretan! [Barang apakah itu?] Senangnya bukan kepalang, sampai sekarang.

Akan tetapi, yang menarik perhatian saya justru alasan orang-orang ‘sinting’ itu menjual peranti digital mereka: sudah keluar produk yang lebih kekinian! Saya jadi ingat sekitar dua dekade terakhir [bener-bener saya sudah tuwir] pernah menunggu servis mobil dan di sebelah saya duduk orang yang saya ingat pernah beberapa kali jumpa sewaktu servis, dan saya lihat mobilnya sudah berganti lagi. Jauh lebih keren. “Ya anak saya suka ganti mobil keluaran baru, Mas, yang lama dikasihkan saya.” Bisa jadi saya yang kudèt, bisa juga anaknya itu mencirikan anak-anak zaman now: selalu menginginkan kebaruan. 

Meskipun demikian, apakah keinginan akan kebaruan itu ciri khas anak-anak zaman nowEnggak juga, sudah sejak zaman jebot orang menginginkan kebaruan. Yang membedakan cuma bahwa sekarang perubahan itu berlangsung lebih cepat daripada yang bisa dihidupi orang zaman jebot. Cobalah amati popularitas lagu pop yang sekarang lebih cepat tergantikan oleh lagu lainnya. Teks bacaan pertama hari ini juga bisa dilihat dalam perspektif itu: orang bersemangat muda, orang yang punya spirit, alias roh, ialah mereka yang senantiasa mencari kebaruan.

Tendensi ini ditangkap oleh Paulus. Orang-orang Athena sebetulnya mencari sesuatu yang tak mereka kenal, seakan-akan segala yang mereka miliki itu belum sungguh-sungguh utuh, penuh, sempurna, komplet, dan sejenisnya. Itu sudah! Dalam diri setiap orang itu, menurut Paulus, dan saya setuju: ada hasrat untuk mencari si Dia, yang sebetulnya gak jauh-jauh dari dirinya sendiri. Saking tak jauhnya, orang mengira Dia itu adalah gawai, device, properti, fashion, mobil, posisi-jabatan, profile picture (eaaaaa) dan sebagainya. Orang berhenti di situ dan jadilah ia menyembah berhala.

Jalan keluarnya ya merealisasikan kemungkinan berhala yang disembah itu dijadikan sarana untuk membangun dunia yang lebih berkeadilan dan menyejahterakan semua tanpa pengecualian. Kalau memang kemungkinan itu tak bisa direalisasikan, alias hanya bisa jadi berhala, sebaiknya memang ditinggalkan saja. Sakit, bisa jadi, tetapi yang penting tak lagi menderita karena hidup dalam ilusi.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk menemukan cara-cara dan gaya baru dalam mencintai-Mu dan sesama. Amin.


RABU PASKA VI
9 Mei 2018

Kis 17,15.22-18,1
Yoh 16,12-15

Posting 2017: Wong Kagol
Posting 2016: Butuh Teman

Posting 2015: Roh Kudus Juru Blusuk

Posting 2014: Berhala Itu Bernama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s