Nothing Tulus?

Bulan lalu saya omong soal makan dalam iman. Teks bacaan hari ini mengelebatkan soal berteman dalam iman, soal relasi baru yang diprovokasi oleh guru dari Nazareth (ya sebetulnya orang lain juga ada yang menganjurkan begitu sih; ini cuma karena berangkatnya dari teks bacaan hari ini aja). Triggernya pertanyaan yang sudah jamak: Bagaimana kalau ketulusan hati kita disalahgunakan oleh orang lain? 

Bisa jadi, kasusnya juga jamak. Orang sudah berusaha setulus hati, jebulnya dipaido, tidak dipercaya, dikhianati, atau bahkan dibalas dengan air tuba [lha wong kasih air brotowali kok]. Kalau pertanyaan itu diajukan oleh orang lain, barangkali itu jadi bahan diskusi, tetapi kalau diajukan oleh diri sendiri yang mengalaminya, itu jadi bahan refleksi atau mawas diri.

Coba ya, ini saya tunjukkan salah satu cognate dalam bahasa Inggris dan Indonesia: TULUS, cognate dari [nothing] to lose. Percaya gak? Enggak? Ya gapapa, saya sudah biasa tidak dipercaya kok, eaaaaa….
Kalau orang sudah berusaha tulus kepada orang lain tetapi kemudian mengeluh karena orang lain tak memercayainya, itu pertanda bahwa usahanya (untuk tulus) tak berhasil. Kalau orang itu tulus, ia nothing to lose. Tak peduli balasan yang diterimanya apa, bagai sang surya menyinari dunia.

Lain soalnya kalau yang mengeluhkan orang lain: orang itu sebegitu baik dan tulusnya sehingga ia diperdayai, diperalat, dimanfaatkan orang lain dan dia gak melihatnya sebagai penindasan.
Untuk kasus seperti ini, bisa jadi memang orang itu tulus seperti merpati, tetapi tidak cerdik seperti ular, alias hidupnya kurang biblis (soalnya ada kitab yang memuat nasihat itu: Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati), beriman pun jadi gak cerdas, eaaaa….

Gimana supaya bisa cerdik-cerdas sekaligus tulus ya? Wah, ya ndak tau. Rajin-rajinlah belajar dan sayangilah hewan #loh… Saya cuma mau bilang bertemanlah dengan provokator yang tak kelihatan ini. Tentu bukan soal Anda bisa memanggil roh atau arwah; malah tidak perlu atau jangan. Berteman saja dalam iman; menaruh kepercayaan bukan pada kekuatan yang fana, melainkan pada roh yang diutus Tuhan itu, untuk itu perlu dialog, komunikasi yang baik. Kalau sudah sampai sini nanti ujung-ujungnya ya pembedaan RohGak papa, belum tentu juga kita sampai ke ujungnya, hahaha.

Tuhan, bantulah kami supaya semakin rendah hati dan tulus-cerdik dalam persahabatan dengan sesama. Amin.


SELASA PASKA VI
8 Mei 2018

Kis 16,22-34
Yoh 16,5-11

Posting 2017: Untuk Koh Ahok
Posting 2016: Perpisahan Mendewasakan

Posting 2014: Sakit Boleh, Menderita Jangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s