Kala(h n)Jengking

Anda pasti tahu dong judul posting ini berkenaan dengan apa. Iya betul, #2019gantipresiden. Judul ini sudah terpikir tiga hari lalu, cuma baru tertuliskan sekarang. Itu adalah tagar untuk yang kalah njuk njengking; melihat kenyataan pun dengan njengking, terbalik. Janjané saya juga bukan penentang #2019gantipresiden, tetapi mbok kalau memang mau ganti presiden itu ya pastikan adanya pengganti yang lebih keren gituloh. Jangan asal njeplak (eh maaf ketrucut) ganti presiden. Ini bukan 1998, Bung!

Dua minggu lagi, dua puluh tahun lalu, presiden lengser dan mahasiswa-masyarakat yang demo besar-besaran #gantipresiden bingung karena tak punya calon pengganti presiden, tetapi memang agenda saat itu ialah yang penting asal jangan diktator berkuasa, asal penguasa berlandaskan semangat kekeluargaan itu turun dari kepresidenannya, asal bukan Soeharto. Itu dua puluh tahun yang lalu. Bisa diterima agenda people power itu karena memang penguasanya hegemonik, represif, meskipun senyumnya impresif, “Kepenak zamanku toh?”

Zaman now ini di sini, apa ya presidennya masih hegemonik dan represif? Apa keluarganya punya gurita bisnis? Apa dia memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri? Apa memang cara hidupnya itu pencitraan pengumpul suara? Wong jelas-jelas presiden ndeso gitu aja kok masih direcoki dengan #2019gantipresiden! Kalau begini yang brengsek bukan presidennya, melainkan kalah-njengking tadi.

Di mana brengseknya? Ya munafik. Persis seperti pilkada DKI kemarin. Kampanye mulut muanies disodorkan sedemikian rupa seakan-akan ada alasan mulia menyingkirkan gubernur, tetapi de facto tak ada perubahan signifikan, bahkan tim percepatan pembangunannya malah dipertanyakan kinerjanya. Alasan mulia disodorkan entah dengan kata kunci keberpihakan atau pemimpin berlabel halal. Itu betul, tetapi setelah sekian waktu berjalan, kelihatan bahwa keberpihakan dan kehalalan itu bukan sasaran sesungguhnya.

Mo, sabar Mo. Bukannya pada teks bacaan hari ini sudah dikatakan “Akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti kepada Allah”?

Blaikkkk, betul ik.
Teringat lagi: roh jahat bisa menyamar jadi roh baik. Kalau gak gitu, hidup ini jadi gampang banget: jelas mesti memihak yang mana. Bisa jadi #2019gantipresiden ya menyuarakan kebenaran, tetapi kalau orang mau jujur melihat pilkada DKI kemarin saja, semestinya orang bisa melihat contoh prinsip pembedaan roh tadi. 

Njuk relevansinya apa toh mbahas kayak beginian? Relevansinya selalu berkenaan dengan mawas diri supaya orang beriman tidak jadi kalah-njengking tadi, supaya orang yang sungguh beriman tetap teguh dan waspada terhadap aneka upaya bulus untuk mengakalinya dengan label agama. Prihatin loh lihat agama dilecehkan untuk kepentingan politik begitu.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat beriman secara cerdas dan bertanggung jawab. Amin.


SENIN PASKA VI
7 Mei 2018

Kis 16,11-15
Yoh 15,26-16,4a

Posting 2017: Bullying Bullying Kekasihku
Posting 2016: Terpaksa Sekolah?
 
Posting 2015: “Maling” Tuhan

Posting 2014: Beriman tapi Gembira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s