Aku Cinta Kamu Wkwkwk

Baru aja kemarin bahas soal benci demi mematahkan dominasi wacana cinta, sekarang nongol lagi kata cinta. Apa ora keblinger tah, Ma? Ya gimana lagi wong emang teks bacaannya menyinggung soal ini kok (ini bagian dari lima bab wacana perpisahan yang memuat 25 kata ‘cinta’). Tapi gak usah khawatir, saya akan memakai istilah yang berbeda.

Mari ingat-ingat ungkapan “aku cinta kamu”, yang untuk saya sudah hampir tak ada artinya, atau, kalau ada, artinya tak lebih dari “aku tak bisa hidup tanpa kamu”. Menariknya, ungkapan yang begini ini dinanti-nantikan banyak orang, seakan-akan senang kalau orang lain tak bisa hidup tanpa dirinya, sehingga menanti sampai pihak lain menyatakannya lebih dulu (siapa yang nembak duluan). Cinta ini biasanya, tidak selalu, dan tidak hanya, menghantui mereka yang kasmaran, yang belum kenal apa artinya cobek dan ulekan atau bokek dan kêpèpèt cari utangan (alih-alih bareng-bareng mengelola duit). Ini cinta namanya eros.

Kemarin ada kejadian lucu di kota tempat saya tinggal. Seorang kakek memukul pantat (perempuan) peserta 5K UNISA running 2018 karena berpakaian hot pants, eaaaa nongol lagi High Order Thinking. Kasus sudah dinyatakan selesai, dan justru karena dianggap selesai, saya malah mempertanyakan jangan-jangan itu cara kita menyelesaikan persoalan cinta-cintaan seperti yang tadi sudah saya bahas. Orang ribut dengan pakaian sopan, menyalahkan hot pantstank top, dan lain-lain sejenisnya, dengan tolok ukurnya sendiri-sendiri. Saya salut runnernya minta maaf (atas kesalahan si hot pants) dan tidak menyelesaikan jalur larinya, tetapi saya tak yakin bahwa pokok persoalannya terselesaikan. Akan tetapi, blog ini tidak hendak menyelesaikan persoalan itu. Ngapain juga, kayak gada kerjaan lain, haaaaa.

Saya cuma mau bilang bahwa dalam eros (apalagi epithymia, bahasa padanannya untuk libido alias hasrat seksual), hal kecil bisa bikin ancur. Cinta ababil, karena munculnya dari sifat biologis. 

Teks bacaan hari ini, meskipun sama-sama menyodorkan kata cinta, nuansanya berbeda. Ini cinta yang dalam bahasa sono disebut agape. Ini bukan cinta yang bernuansa “aku tak bisa hidup tanpamu”, melainkan “aku siap membantumu supaya kebahagiaan sejati kau dapatkan”.
Loh, Mo, bukannya kebahagiaan sejati itu tanpa syarat alias kebahagiaan tak bersyarat?

Haiya justru itu, karena kebahagiaannya tak bersyarat, cintanya juga bukan cinta bersyarat. Nuansa “aku siap membantumu supaya kebahagiaan sejati kau dapatkan” itu kan tidak memuat syarat apa-apa. Lu gak mau gue bantu ya gapapagua gak bakal maksa.
Begitu ada pemaksaan, agape berubah jadi eros. Pukul pantat tadi adalah manifestasi eros, sebagaimana driver ojek online yang konon hendak memaksa penumpangnya untuk itu (untuk itu apa sih, Mo? Ya gitu deh). 

Gimana ya biar agape tak didominasi eros atau libido?
Mari lihat teksnya: Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mencinta, seperti Aku telah mencintai kamu. 

Alur perintahnya jelas: Aku kan sudah mencintai kamu, nah Aku ingin kamu saling mencinta. Jadi, kita tak perlu mbèlgèdhès gombal amoh hendak mencintai Tuhan seperti Dia telah mencintai kita seakan-akan kita mampu membalas cinta-Nya! Cukup merealisasikan hidup sebagai hadiah, cinta sebagai saling menghadiahkan diri, bukannya malah saling menuntut.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu menjadi hadiah bagi sesama. Amin.


HARI MINGGU PASKA VI B/2
6 Mei 2018

Kis 10,25-26.34-35.44-48
1Yoh 4,7-10
Yoh 15,9-17

Posting 2015: Cinta Mati nan Menghidupkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s