Makan Tuh Iman

Tak sedikit orang beragama yang memilih tindakan strategis lebih daripada tindakan komunikatif dalam hidupnya. Ada contoh banyak sekali mengenai tindakan strategis orang beragama ini: pura-pura berdoa, beramal, menyitir ayat Kitab Suci, untuk melegitimasi agenda pribadinya. Contoh terbaru ialah politisi yang membawa-bawa Allah supaya orang percaya dan tunduk pada agenda yang ditetapkannya sendiri atau bersama kelompoknya sendiri. Yang lain-lain jadi objek, termasuk Allah pun dijadikannya objek untuk mencapai tujuannya sendiri atau kelompok. Masih segar ingatan Anda akan PartAi setaN, bukan? Anda juga ingat prinsip discernment bahwa roh jahat bisa menyamar sebagai roh baik dan tidak sebaliknya, bukan? [Dari situ bisa disimpulkan bahwa yang mengklaim partainya sebagai partai Allah dibimbing oleh roh apa.]

Tindakan komunikatif mengandaikan adanya kesetaraan antara pihak-pihak yang berkomunikasi supaya mereka saling memahami. Baik tindakan strategis maupun tindakan komunikatif sama-sama merupakan model tindakan manusia dalam konteks sosial. Yang strategis lebih cenderung membangun kemenangan pihak yang satu dengan mendominasi pihak lain, yang komunikatif lebih cenderung membangun kebersamaan yang dilandasi saling pemahaman. Kedua model tindakan ini bisa dibuat oleh siapapun, entah ber-Tuhan atau ber-setan, eaaaaaa.

Teks bacaan hari ini tidak menyodorkan pilihan antara tindakan strategis dan tindakan komunikatif. Yang disodorkan ialah jenis tindakan lain, yang bolehlah disebut sebagai tindakan iman. Sang guru dari Nazareth tidak kenal teori tindakan Habermas, tetapi tindakan iman yang disodorkannya mengandaikan tindakan komunikatif. Maksudnya, orang beriman melakukan tindakan komunikatif yang ditujukan bukan lagi saling pemahaman antara A dan B saja, melainkan juga saling pemahaman antara A dan B mengenai mengenai Sabda Allah. Dengan modal tindakan komunikatif itu, tindakan iman memungkinkan orang mengenyam keadaan mantap jiwa, lebih daripada kenyang perut.

Contoh tindakan iman adalah tindakan senior saya yang punya alergi terhadap seafood dan binatang air lainnya (ikan, kuda nil, buaya, kecebong, jentik nyamuk, dan sebagainya). Setiap kali tersaji seafood atau ikan yang tampak yummy dan ditawari untuk memakannya, beliau senantiasa menjawab,”Meskipun saya tak menikmatinya, saya percaya itu lezat sekali. Saya mengimaninya, ciptaan Allah itu pasti lezat.”

Tentu itu contoh guyonan saja. Contoh tindakan iman terletak pada diri orang-orang yang berseru bersama pemazmur hari ini: Ya Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan hidupku.

Artinya, juga dalam tindakan komunikatif untuk saling memahami, juga dalam ikhtiar mengejar yang terbaik bersama-sama, pada akhirnya orang mesti menyerahkan hidup ini pada penyelenggaraan ilahi sendiri. Dengan kata lain, orang tak bisa menilai ikhtiarnya sendiri sebagai ikhtiar Allah. Itu mengapa orang beragama sejati tidak berkoar-koar memastikan dirinya seratus persen dalam agama Allah. Masih ada celah, sekecil apapun, bahwa orang itu punya agenda ‘mengenyangkan perut’ lebih daripada pasrah total terhadap kehendak Allah.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu melakukan tindakan iman. Amin.


SELASA PASKA III
17 April 2018

Kis 7,51-8,1a
Yoh 6,30-35

Posting 2017: Bakar Bunga
Posting 2016: Roti Surga, Selai Neraka

Posting 2015: Tanda Tangan Allah

Posting 2014: Weak But Strong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s