Sirene dan Strobo

Tidak semua bunyi sirene dan kelap-kelip strobo di jalan menyenangkan pengendara mobil atau motor, apapun alasannya, sebagaimana suara raungan knalpot tidak menyenangkan semua orang. Meskipun demikian, sirene dan strobo itu bisa jadi memang diperlukan justru untuk mengakomodasi kepentingan umum atau barangkali kepentingan nyawa seseorang. Pada kenyataannya, karena kepentingannya itu, sirene dan strobo bisa disalahgunakan oleh orang yang bertanggung jawab pada egoismenya. Terhadap yang begini, sikat aja bleh, hahaha.

Catatan hari ini tetap dalam asumsi bahwa hanya Tuhanlah yang dapat sungguh-sungguh memuaskan lapar dan dahaga lahir batin manusia. Dalam teks diistilahkan sebagai roti hidup; mungkin rotinya bisa krugêt-krugêt. Meskipun demikian, dalam perjalanan ziarah hidup ini, bisa jadi orang memakai sirene dan strobo yang seakan-akan mendesakkan sesuatu yang penting bagi dirinya. Inilah persoalannya. Orang memakai tameng sirene yang menjanjikan kebahagiaan tetapi pada kenyataannya tidak. Orang beriman perlu hati-hati dengan sirene dan strobo seperti itu: karir, duit, kesenangan dan lain-lainnya yang memang mengimitasi kebahagiaan, tetapi malah meninggalkan jauh-jauh hati orang sendiri sehingga kebahagiaan yang sesungguhnya itu luput.

Karier dan duit tentu bukan hal remeh, tetapi persoalannya bukan remeh tidaknya, penting tidaknya, melainkan apakah hal-hal itu sungguh jadi bantuan bagi orang untuk connect dengan hatinya sendiri, yang di kedalamannya bersemayam Tuhan yang memuaskan lahir batin tadi. Karena itu, di samping karier dan duit, bisa ditambahkan juga agama. Bisa jadi orang memakai agama sebagai sirene dan strobo dalam perjalanan hidupnya karena tampaknya itulah yang akan memuaskan lahir batinnya. Akan tetapi, benarkah agama memberikan kepuasan lahir dan batin?

Saya hendak menarik empati Anda pada dokter di pedalaman yang didatangi warga yang sakitnya sudah sampai tahap terminal. Sebelum sakitnya parah, warga itu berobat kepada dukun. Andai saja ia datang kepada dokter sejak awal, sakitnya bisa diobati, tetapi dalam kondisi terminal, apa yang dapat dibuat dokter di pedalaman ini?

Hal yang serupa bisa terjadi pada hidup orang beragama. Andaikan Anda pastor dan didatangi umat Anda yang selama ini tak pernah terlihat dalam kegiatan agama. Anda tak pernah berhasil menemuinya entah di rumahnya atau di lingkungan kerjanya atau di gereja tempat Anda bertugas. Tahu-tahu ia datang bersama pasangannya untuk memberitahu bahwa ia ingin menikah dengan pasangannya dan memeluk agama pasangannya. Apa reaksi Anda? Saya kira, kalau Anda pastor yang baik, Anda akan memberkatinya supaya mendapat rida Allah juga dalam agama yang hendak dipeluknya.

Agama memang untuk sebagian (besar) orang jadi agama amburadul: cuma jadi gejala sosial, fenomena sosial seperti partai politik atau LSM atau ideologi. Alhasil, agama tak jadi lifestyle pemeluknya dan alih-alih jadi sarana untuk bertemu roti hidup tadi, agama jadi seremonial, ritual, statistik. Lalu, perkawinan bisa jadi kendaraan untuk proselitisme; bahkan di beberapa tempat pemerkosaan jadi cara untuk mendapatkan jumlah pemeluk agama. Di situlah orang memakai sirene dan strobo agama; seakan-akan kalau sudah pakai sirene dan strobo itu ia sampai pada tujuan, mendapatkan kepuasan lahir batin.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi supaya kami boleh mengenyam roti hidup yang Kaulimpahkan bagi kami. Amin.


RABU PASKA III
18 April 2018

Kis 8,1b-8
Yoh 6,35-40

Posting 2016: Roti Hidup vs Hati Korup
Posting 2015: Broken, Bright Life

Posting 2014: Awas Kekuatan Gelap!

2 replies

  1. Halo Romo…. tak sengaja sya dapat quote ini .. kelihatannya menjadikan pemahaman saya lebih “padang” untuk memahami tulisan Romo di atas hehheehhe….. “Orang yang telah mengenal Tuhannya “tak menginginkan apa pun kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhannya, dan tak mengharapkan apa pun kecuali apa yang diputuskan oleh Tuhannya untuknya” . (Iyqadzul Himam , Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah) …berkah Dalem #isehkatulik #memahamicarapandangoranglain.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s