Tuntun Dong

Ingatkah Anda ketika pertama kali bisa berjalan dan Anda mengibaskan pegangan tangan orang tua Anda? Kalau tidak ingat, ya sekarang saya ingatkan. Pokoknya, [kalau sudah pokoknya jangan didebat ya] juga anak balita, begitu mampu mengungkapkan diri, bergerak sendiri, cenderung bersegera melepaskan diri dari kekangan orang lain untuk mengambil langkah besar dalam hidupnya. Memang, menjadi bebas dan otonom merupakan kemenangan penting dalam hidup ini. Silakan baca ulang, kalau punya waktu dan mau, halaman Psikologi Campur Aduk. Di situ bisa ditelusuri bahwa perubahan gerak dari-luar-ke-dalam menjadi gerak dari-dalam-ke-luar adalah momen kebebasan seseorang.

Njuk kalau dibilang teks hari ini bahwa tak ada orang yang bisa datang kepada Allah kalau tidak ditarik oleh-Nya, apa itu bukannya berarti orang digerakkan dari-luar-ke-dalam alias heteronom ya? Bukankah itu seperti anak balita tadi yang ditarik ke arah tertentu oleh orang dewasa dan tidak bisa membebaskan diri dari genggaman orang lain itu? Bukankah akhirnya kalau kita beriman itu mesti ‘mengalah’ pada Dia yang kita imani itu?

Sekali lagi ya, Son, kalau sudah bawa-bawa nama Allah, bahasanya jadi metaforis. Jadi, pun kalau Allah menuntun orang, tangan Allah yang menuntun itu tak lain adalah cinta-Nya sendiri, sang Roh Kudus.
Kabar gembiranya: Roh Kudus itu tak lain adalah penggerak yang memungkinkan Anda move on dari luar-ke-dalam jadi dari dalam-ke-luar tadi itu. Itu mengapa Cinta selalu memerdekakan orang, dan tidak membuatnya terkungkung pada adat kebiasaan, praktik agama, yang belum tentu sungguh-sungguh mempertemukan hati orang dengan hati Allah sendiri.

Kalau ini susah dimengerti, tak mengherankan bahwa orang memilih jadi ateis, atau sebaliknya, jadi pemeluk agama robot. Beriman memosisikan orang berdiri di antara dua tegangan itu sehingga sungguh-sungguh menjadi pribadi merdeka, dan dengan demikian, bahagia.

Tuhan, tuntunlah kami dalam cinta-Mu. Amin.


KAMIS PASKA III
19 April 2018

Kis 8,26-40
Yoh 6,44-51

Posting 2017: Inisiatif Siapa Toh?
Posting 2016: Rotinya Rotinya

Posting 2015: Siapa Yang Nembak Duluan?

Posting 2014: Revolusi Mental, Revolusi Kultural

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s