PartAi setaN

Andaikanlah di dunia ini memang cuma ada dua golongan manusia. Saya sendiri cenderung mengatakan tiga (bdk. tiga golongan orang), tetapi mari andaikan saja bahwa di dunia ini cuma ada dua golongan manusia: ber-Tuhan dan tak ber-Tuhan, beriman dan tak beriman. Bisakah penggolongan ini diterapkan pada partai politik A atau B sebagai partai Allah? Tidak bisa, mengapa?

Karena Allah ada dalam kategori yang berbeda dari dua golongan manusia tadi. Pencampuradukan kategori itu, selain melecehkan Allah yang Mahabesar (karena bisa diklaim oleh partai politik), membahayakan sejarah peradaban manusia sendiri. Ini sangat dasariah, mosok sih Harya Sangkuni tak paham soal ini? Mosok sih penasihat pendekar 212 tidak ngerti bagaimana Perang Salib dan holocaust terjadi karena pencampuradukan dua kategori itu? Hmm… rasa-rasanya gak mungkin Harya Sangkuni gak ngerti soal itu. Jadi, kemungkinan besar memang nasihatnya dilandasi keyakinan seperti orang-orang zaman Perang Salib dulu: bahwa ada agama Allah yang mesti berdiri di atas agama setan dan agama Allah itu adalah agama yang dianutnya sendiri. Masing-masing berkeyakinan begitu dan perang bubat tak terhindarkan karena semua membawa ideologi kemenangan zero-sum.

Gagasan Harya Sangkuni ini bukan cuma bikin kêmropok, melainkan juga berpotensi menyesatkan publik. Syukur sudah ada yang memperkarakannya sehingga saya tak perlu repot mencari waktu di sela pengerjaan makalah-makalah ujian akhir untuk mengurusi simbah satu ini. Kowé ki sansaya tuwa kok ya ora tobat ta Mbah? Apa kowé lali biyèn janji ora kêlakon arêp mlaku Jogja-Jakarta sanajan Dilan durung populèr? Aku, sanajan agamaku beda, isin karo caramu ngêlakoni agama, lan kanca-kancaku sing agamané padha karo agamamu ya ora kaya kowé kuwi carané ngêlakoni agama lan dêlêng wong liya.

Entah apakah memang orang yang perutnya kenyang itu bisa melihat hidup secara bijaksana atau malah bertutur kata seenak perutnya atau terus mengumbar kata demi perutnya sendiri. Ini yang tersurat dalam teks bacaan hari ini. Si guru dari Nazareth memberi pesan supaya orang banyak yang kenyang itu tak mengumbar makanan yang cuma mengenyangkan perut, tetapi lebih-lebih makanan yang senantiasa memuaskan jiwa. Jangan-jangan, mengumbar perut kenyang malah bikin gampang lapar dan semakin gak karuan tutur katanya, berujung perang dan ancur ya ancur.

Begini tetangga saya menguraikannya dalam dialog singkat:
P: Aku sayang sama kamu.
W: Aku juga sayang sama kamu.
P: Tapi aku lebih sayang lagi sama kamu.
W: Akulah yang lebih sayang.
P: Aku!
W: Ya akulah!
P: Gua bilang gua ya gua!
W: Ya gualah! Ga’ usah nyolot lu!
P: Kita putus!
W: Ya udah!
Dan akhirnya mereka putus…

Ini yang lebih tragis:
W: Sayang kamu gak makan?
P: Iya sayang nanti 🙂
W: Sayang kamu makan dong. Kalo kamu gak makan aku gak mau makan juga deh.
P: Kamu duluan aja sayang. Kalo kamu gak makan aku juga gak makan.
Dan akhirnya mereka meninggal…

Maka dari itu, sumonggo kalau mau mengklaim diri sebagai anggota Partai Allah. Mungkin dengan cara itu Anda menyongsong kehancuran.

Ya Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami sungguh menemukan kehendak-Mu. Amin.


SENIN PASKA III
16 April 2018

Kis 6,8-15
Yoh 6,22-29

Posting 2017: Ngapain Percaya Tuhan?
Posting 2016:
 Plesetan Iman

Posting 2015: Perbuatan Tanpa Iman Is Dead

Posting 2014: Spirit’s Work, Wider and Deeper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s