Perjalanan Fiktif

Mungkin Anda pernah gelisah menunggu teman dan harapan menggelembung ketika teman itu berkirim kabar bahwa ia sedang otw karena Anda pikir itu adalah on the way. Padahal, bisa jadi itu adalah singkatan dari ojo takon wae (jangan tanya melulu’). Akan tetapi, bahkan kalau otw hanya berarti on the way, saya lebih memilih tak menggelembungkan harapan karena itu bisa berarti on the way ke toilet, kamar mandi, tempat makan, dan seterusnya sebelum yang bersangkutan benar-benar menuju ke tempat saya menantikannya dengan rindu.

Di balik otw, kita tak sungguh mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin di situ ada perjalanan fiktif. Kalau perjalanan fiktif ini cuma kecil perkaranya, barangkali masalahnya cuma ‘dosa kecil’, tetapi tentu ada perjalanan fiktif yang merugikan negara ratusan juta hingga milyaran rupiah. Yang seperti ini mestinya menimbulkan rasa gregetan dalam diri orang waras: pajak yang saya bayarkan, pendapatan tambang yang semestinya dipakai untuk kesejahteraan bersama, diembat oleh aparat negara yang meraup duit dari perjalanan fiktifnya! Sontoloyo kowe!

Di situ tersirat kecenderungan bahwa orang waras tidak menginginkan perjalanan fiktif yang dipakai untuk memperkaya diri sendiri. Kata fiktif, yang kata seseorang berbeda dari fiksi [tapi saya tak sepenuhnya setuju], adalah kata sifat yang menunjukkan bahwa substansi yang ditempelinya tidak klop dengan fakta. Maka, perjalanan fiktif merujuk pada suatu perjalanan yang memang tidak terjadi: fiktif belaka. Inilah rupanya yang hendak ditampilkan penulis teks bacaan hari ini.

Kata kuncinya ialah ‘kebertubuhan’. Dilan, tolong mendekat.
Orang sudah tahu soal NATO alias no action talk only itu: apa yang dikatakan tidak terwujud dalam kenyataan, tidak ada tubuhnya, tidak ada manifestasinya, omdo’. Itulah yang hendak ditekankan oleh penampakan yang disodorkan guru dari Nazareth itu kepada para muridnya. Lukas menunjukkan bahwa guru yang bangkit itu benar-benar menunjukkan diri dengan ‘kebertubuhannya’, bukan sebagai hantu, fantasma, jin, tuyul, dan sejenisnya.

Meskipun demikian, Dilan tolong lebih dekat lagi sini, ‘kebertubuhan’ Yesus yang bangkit ini janganlah dipahami mentah-mentah sebagai kebertubuhan material seperti benda lainnya. Dalam pengertian bangsa Semit [bukan semut], tubuh adalah keseluruhan pribadi, bukan cuma anggota badan atau organ pencernaan yang bisa terkorupsi oleh penyakit atau rusak oleh benda material lain. Jadi, guru yang bangkit ini menampakkan pribadinya yang sudah ditransformasi sedemikian rupa sehingga meskipun elemen material itu hadir, tak ada elemen material lain yang bisa merusak atau mengorupsinya.

Untuk memperkokoh kebertubuhan itu, sang guru mengundang murid-muridnya untuk mengobservasi tangan dan kakinya. Nah lu, biasanya orang diminta mengenal wajah. Ini kok para murid malah diminta mengobservasi tangan dan kaki.

Begitulah, karena tangan dan kaki si guru ini rupanya yang bisa mengingatkan para murid pada pekerjaan dan perjalanan yang ditempuh si guru ini. Pekerjaan baik dan perjalanan yang ditempuh dengan kakinya sampai terhenti di palang salib sebelum palang merah berdiri. Itu bukan perjalanan fiktif, dan kalau orang beriman tidak mengikuti perjalanan macam itu, perjalanan pekerjaan baik sampai terbentur gerombolan orang kesetanan, bisa jadi ia keliru mengambil jalan dan membuat perjalanan fiktif.

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk menghindari perjalanan fiktif yang mencederai diri dan sesama. Amin.


MINGGU PASKA III B/2
15 April 2018

Kis 3,13-15.17-19
1Yoh 2,1-5a
Luk 24,35-48

Posting 2015: Kristus Butuh Toilet Jugakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s