Kompor Ilahi

Ini masih berkenaan dengan kitab fiksi nan suci. Ceritanya guru dari Nazareth itu berjalan di atas air saat murid-muridnya berjuang melawan badai. Untuk membaca teks bacaan hari ini, tidak relevanlah mengambil ancang-ancang pertanyaan apakah guru dari Nazareth itu benar-benar berjalan di atas air. Bisa benar-benar terjadi, bisa juga tidak benar-benar. Kalau membandingkannya dengan teks lain dengan kisah serupa, sepertinya memang benar-benar. Apa untungnya jal penulis-penulis teks itu mewartakan hoax dan mengapa juga orang keasyikan membaca fiksi silat dengan ilmu gin kang seakan-akan kisah itu memang nyata begitu?

Kalau menurut saya sih, si guru itu benar-benar berjalan di atas permukaan air, dan bukan di bawah permukaan air. Tapi ya itu tadi, gak pentung #eh penting apakah dia berjalan di atas air atau tidak. Lebih penting mengingat bahwa dalam kitab fiksi nan suci itu, laut/danau merepresentasikan gambar kedukaan, kekacauan, kekuatan jahat dan kematian (bdk. Mzm 18,5: tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku). Ini sudah dijelaskan pemaknaannya dalam posting Tenang, Ada Gue: sosok guru yang berdiri di atas kekacauan, mengatasi kematian. 

Meskipun demikian, apa artinya mengalahkan kematian itu? Kenyataannya setiap orang tinggal tunggu giliran doangmbok mau ditunda dengan teknologi secanggih apapun, semua antri untuk menyerah kepada kematian yang senantiasa mengintai. Justru cara pandang itu sendiri menunjukkan kekalahan orang terhadap kematian, seakan-akan kematian itu menjadi akhir kehidupannya dan orang tinggal menyerah saja.

Dari teks bacaan hari ini sang guru dari Nazareth datang pada saat murid-muridnya diperdayai oleh badai. Bagaimana respon detail mereka tak tergambarkan dalam teks hari ini tetapi jelas dikatakan di situ bahwa mereka ketakutan. Ketakutan membutakan mereka dari Tuhan yang menghampiri hidup mereka. Nota bene! Kalau orang Kristen menyebut Yesus dari Nazareth itu adalah Tuhan, itu sama sekali tidak hendak mengatakan bahwa Yesus dari Nazareth itu ialah Allah Bapa atau yang disebut Allah Mahabesar dalam tradisi Islam atau YHWH tradisi Yahudi. Ini soal atribut yang biasa dalam kultur Yahudi dan julukan itu ‘hanyalah’ pengakuan implisit keilahian sosok guru dari Nazareth itu.

Yang Ilahi itu sampai sekarang menghampiri manusia, seturut jerit tangisan manusia, mereka yang dalam perang, kelaparan, kekerasan terhadap kaum lemah, frustrasi karena ketidakadilan, kehilangan harapan, dan seterusnya. Tanggapan manusia beragam, tetapi mungkin kebanyakan mengidentikkan kehadiran Yang Ilahi itu dengan fatamorgana keadilan sosial. Mungkin orang mengidentikkan kehadiran Yang Ilahi itu sebagai kebahagiaan manusiawi atau perdamaian dunia (yang sejak zaman jebot diserukan para tokoh agama, tapi tetap saja negara ini menginvasi negara itu, menabuh gendang perang, dan sejenisnya).

Kalau Yang Ilahi itu menghampiri manusia supaya mereka menemukan kebahagiaan dan perdamaian dunia, kiranya itu terjadi dalam dan melalui usaha-usaha manusiawi, tetapi tak pernah direduksi atau dikorupsi pada usaha-usaha manusiawi tadi. Inner peace tidak bergantung pada berhasil tidaknya usaha manusiawi tadi, tetapi pada bagaimana usaha manusiawi itu diletakkan di atas kompor Yang Ilahi tadi sebagai prosesnya. Ini berat, Dilan.

Tuhan, bukalah mata hati kami supaya senantiasa mampu menangkap kehadiran-Mu di tengah kekacauan hidup ini. Amin.


SABTU PASKA II
14 April 2018

Kis 6,1-7
Yoh 6,16-21

Posting 2017: Jangan Atut
Posting 2016: Tenang, Ada Gue
Posting 2015:  Kadang Niat Baik Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s