Sinyal Cinta

Sudah lama, sejak tinggal di kota (eaaaaa), saya tidak mengalami kejadian seperti di siang hari berpanas terik ini. Ceritanya kan saya jalan kaki di daerah yang susah sinyal, hampir semua provider telekomunikasi di tempat ini tak berdaya mengirimkan sinyalnya. Ada satu provider yang sinyalnya bagus, kalau pas bagus. Tentu saya tidak hendak bercerita mengenai provider. Emangnya saya cowok apaan.

Yang hendak saya ceritakan ialah ketika saya tengah berjalan itu, dari arah belakang saya terdengar deru motor dan ketika melewati saya motor itu melambat jalannya sampai akhirnya berhenti sekitar lima meter di depan saya. Mungkin enam meter atau tujuh meter, entahlah, hape saya tak mendapat sinyal sehingga tak bisa dipakai untuk mengukur gap antara saya dan motor itu. Pengendaranya bapak-bapak (meskipun cuma satu bapak) dan di sela-sela kaki bapak-bapak itu berdiri anaknya yang mungkin kelas satu SD, atau entahlah, hape saya tak mendapat sinyal sehingga apa hubungannya…

Saya pikir, motornya bermasalah, tetapi ketika saya sudah di samping motor itu si bapak menyapa saya dan bertanya apakah saya mau ke atas. Tampaknya beliau hendak memberi saya tumpangan. Betul. Jarak dari tempat saya berdiri sampai ke jalan aspal di depan sana itu sekitar satu kilometer. Ini jarak yang secara mental jadi cukup jauh karena jalanannya menanjak sekitar 30º, atau mungkin 31º, entahlah dan siang ini benar-benar panasnya menyengat; padahal baru sebelum kemarin saya disengat panas di tempat lainnya, sampai gosong begini. Nih lihat kalo gak percaya. Dengan bahasa Jawa halus saya mengatakan bahwa saya hanya akan pergi dekat saja dan memang bapak-bapak itu mempersilakan saya untuk menumpang di belakang. Dia tidak pakai seragam ojek online, daerah susah sinyal getuloh. Jadi, kiranya dia memang secara tulus mempersilakan saya menumpang, tetapi ya mau bagaimana lagi, mosok saya numpang naik motor hanya untuk jarak 15 meter. Emangnya saya cowok apaan.

Bapak itu, entah motornya sudah lunas atau masih kredit [ya ampun, Romo ini ngécé banget], memikirkan propertinya sebagai instrumen juga untuk membantu orang lain. Ini adalah sinyal sesungguhnya yang dibutuhkan banyak orang. Ini jugalah sinyal yang terlihat dalam kisah teks bacaan hari ini: tak peduli berapapun yang dimiliki orang beriman, propertinya itu punya nilai sosial yang senantiasa bisa dipakai untuk kepentingan sesama. Sinyal macam ini, sinyal cinta, jauh lebih langgeng sehingga, seperti dikatakan dalam bacaan pertama, takkan bisa diruntuhkan oleh upaya-upaya manusia.

Sik3 Mo, kalau memang tak teruntuhkan oleh upaya manusia, kenapa sinyal cinta macam itu tak terjadi di kota? Hehehe iya juga ya. Kenapa ya? Saya tak bisa menjawabnya karena susah sinyal. Lagipula, emangnya saya cowok apaan.

Ya Tuhan, jadikanlah kami murah hati seperti Engkau murah hati adanya. Amin.


HARI JUMAT PASKA II
13 April 2018

Kis 5,34-42
Yoh 6,1-15

Posting 2017: Let It Go 2
Posting 2016: Bahaya Laten Komunis

Posting 2015: Modal Duit Saja Gak Cukup

Posting 2014: Determinasi Orang Rendah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s