Rekayasa Perjumpaan

Kita semua tahu bagaimana memisahkan gajah kecil dari gajah besar. Caranya gampang: dengan memasukkannya dalam saringan atau alat untuk mengayak. Nanti gajah-gajah kecil akan lolos dari ayakan dan yang tinggal pada ayakan adalah gajah besarnya. Sesederhana itu, teorinya.

Seorang pastor muda Italia mendapat jawaban yang mirip dengan itu ketika ia bertanya kepada sekelompok anak-anak dalam kotbahnya tentang Injil hari ini. Dalam bahasa Italia ada kata peccatore (baca: pékkatoré) dan pescatore (baca: péskatoré). Peccatore berarti pendosa, dan pescatore berarti penjala ikan atau nelayan. Petrus, yang mengaku diri sebagai pendosa di antara manusia, diproyeksikan Yesus sebagai penjala manusia. Tapi pertanyaannya: bagaimana menjala manusia? Dan seorang anak dengan lantang menjawab: dengan memakai jala raksasa! Iyahahaha…. imajinasi anak ini bisa mengantar kita pada panggilan kepada iman.

Jala raksasa itu tak lain adalah Gereja sendiri, dan kalau kita bicara soal Gereja di sini, kita tak sedang omong agama. Kita bicara soal persekutuan umat yang percaya kepada pribadi Allah yang mau hadir di dunia fana ini, lewat Kitab-Nya, lewat pribadi manusia, lewat suara-Nya dalam hati manusia. Kata seorang temin kemarin: ada suara yang hanya bisa dikatakan dan didengar oleh hati, dan suara itu adalah Kebaikan, Ketulusan, dan Cinta. Yesus menjumpai Simon Petrus dan teman-temannya yang sedang membereskan jala setelah pekerjaan rutin mereka yang mungkin membosankan dan terpaksa mesti mereka lakukan demi beberapa suap nasi (Woh… mereka kan gak makan nasi? Oh iya ya, salah).

Dengan melihat gerak naratif kisah perjumpaan Yesus dengan murid-murid pertamanya ini, kita bisa ketahui bahwa sebelum Yesus bersama mereka, seluruh kekuatan dan kepiawaian mereka sebagai nelayan itu jadi nihil, tak menghasilkan apa-apa. Setelah Yesus bersama mereka dalam perahu dan meminta mereka menebarkan jala, mereka dapat ikan berlimpah ruah. Ini pesan standarnya, mirip dengan teks Injil Yohanes 15,5: tanpa Tuhan, kekuatan manusia bisa jadi mengagumkan, tetapi toh tidak semembahagiakan dan seproduktif bersama Tuhan.

Kebersamaan dengan Tuhan bukanlah kebersamaan yang direkayasa oleh akal manusia. Rekayasa akal orang biasanya mengobjekkan salah satu pihak atau malah beberapa pihak. Loh, memangnya kenapa kalau begitu? Pengobjekan itu akan membuat orang jadi ‘permainan’ pihak lain lebih dari melibatkan orang dalam ‘permainan’. Sudah jamak terjadi bahwa orang dihipnotis dengan kata-kata suci supaya akhirnya ia mau memberikan sejumlah uang, jadi istri kedua, ketiga, atau harapan pertama, misalnya. Rekayasa orang membela kepentingan si perekayasa.

Kebersamaan dengan Tuhan memberi ruang kebebasan dan akal budi manusia untuk berkembang, mengubah kelemahan manusia jadi kekuatan untuk menunjukkan kebesaran Tuhan. Kebersamaan ini, yang bisa juga dilihat sebagai rekayasa Tuhan, tidak mengobjekkan orang, tetapi membiarkan orang mengambil posisi subjek bersama Tuhan. Simon Petrus yang tersungkur diundang jadi penjala manusia, Paulus yang merasa hina tetap mendapat rahmat berlimpah, dan Yesaya yang melihat kebesaran Allah, semuanya sepakat: ini aku, Tuhan, utuslah aku.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami dapat semakin tulus memuji dan mengabdi-Mu. Amin.


HARI MINGGU PEKAN BIASA V C/2
7 Februari 2016

Yes 6,1-2a.3-8
1Kor 15,1-11
Luk 5,1-11

Hari Minggu Pekan Biasa V B/1: God Sees The Truth but Waits

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s