Bagi-bagi Lahan

Orang yang sungguh beriman semestinya menjauhkan diri dari godaan untuk mempunyai sertifikat hak milik atas Allah.
Loh, gimana toh Rom, beriman tuh bukannya malah ber-Tuhan, yang artinya mempunyai Tuhan, kok malah dibilang itu godaan?
Justru itu, kenapa ber-Tuhan mesti diasosiasikan dengan memiliki Tuhan? Hanya karena tata bahasa? Pun, jika memang ber-Tuhan itu harus berarti memiliki Tuhan, kan secara implisit sudah saya sodorkan alternatif: tak usahlah hak milik, cukup hak guna bangunan atau hak guna usaha, yang sewaktu-waktu jika dibutuhkan negara bisa dikembalikan, eaaaaa. Sudah-sudah, jangan nyinyirin yang punya lahan luas untuk menyelamatkan bumi pertiwi dari cengkeraman asing!

Poinnya sudah saya sampaikan pada posting Jangan Mengobjekkan Tuhan, karena Tuhan bukan objek (semata), sehingga tak bisa diklaim sebagai hak milik. Begitu orang mengklaim Allah sebagai miliknya, ia mengendalikan Allah ke dalam pikirannya, yang belum tentu waras, dan kalau Allah sudah dalam kendalinya, yang lain-lain bisa dikafirkannya, atau sekurang-kurangnya ia merasa superior daripada mereka yang masuk dalam bilangan outgroup. Begitulah yang dialami murid Guru dari Nazareth. Ini murid yang paling dikasihi Guru dari Nazareth, dan ia tak luput dari arogansi yang muncul karena klaim kepemilikan itu. Dia heran ada orang lain yang bisa mengusir roh jahat dengan memakai nama gurunya, dan kemudian mereka melarangnya.

Apakah hal itu hanya berlaku untuk para murid Guru dari Nazareth? Ya tidak. Garis keras ingroup outgroup mengikuti orang yang mengobjekkan Tuhan, orang beragama yang inkonsisten dengan klaim universalitas nilai agama mereka sendiri. Ada, kan, orang yang ngotot bahwa agamanya adalah universal, tetapi jengkel ketika orang beragama lain menghidupi nilai agamanya? Ada, kan, orang yang meyakini agamanya sebagai rahmat bagi kemanusiaan tetapi membuat kotak-kotak mulai dari rumah sampai kubur? Masih ada, bukan, orang yang mendoakan semua makhluk berbahagia tetapi mati-matian melarang orang lain ikut merayakan hari besarnya?

Andai saja semua orang beragama sadar dan konsisten bahwa agama mereka menjadi berkah bagi semua makhluk, kategori ingroup outgroup itu niscaya diterima sebagai keragaman berkah, alih-alih sebagai tolok ukur untuk menilai siapa yang superior di dunia ini. Kalau saja semua orang beragama mengerti dan konsisten bahwa agama menjadi sarana menuju Allah, niscaya perbedaan itu dipakai untuk memperkaya kontribusi agama terhadap pengembangan kualitas manusia. Setiap orang punya lahannya sendiri-sendiri untuk memproduksi nutrisi bagi kemanusiaan.

Maka dari itu, saya mengulangi yang konon dikatakan Karl Rahner entah di mana: Kita mesti melawan godaan untuk mengambil posisi Allah. Kita mesti melepas alas kaki untuk saling berhadapan dengan respek mendalam. Bukanlah lahan kita untuk mencampuri tindakan Allah dalam diri orang lain.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mampu menularkan jalan-Mu sebagai sarana kebahagiaan bagi semua makhluk. Amin.


RABU BIASA VII C/1
27 Februari 2019

Sir 4,11-19
Mrk 9,38-40

Posting Tahun C/2 2016: Kebanyakan Monopoli
Posting Tahun A/2 2014: Insha’Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s