Saya bisa mengerti jika sebagian orang skeptis terhadap agama karena kebanyakan pemeluknya medioker alias hangat-hangat tahi ayam (mungkin pembuat ungkapan ini pernah menunggui ayam be’ol). Yes, agama setengah-setengah ini tidak cukup radikal bagi siapa pun. Bagi penggemar ritual, agama tidak lagi sakral kecuali di situs-situs yang dikeramatkan. Bagi pengidola kebebasan, agama terlalu kaku bin formal bin birokratis. Bagi kebanyakan pejuang cuan untuk survive, agama tak lebih dari lembaga bansos. Bagi pejuang sosial, agama juga hanya jadi agen lain kesalehan individual. Bagi penguasa politik, agama hanya aset untuk memperkokoh status quo kekuasaan.
Tentu, masih bisa dilantunkan aneka litani kritik terhadap agama dan, sekali lagi, saya bisa mengerti cibiran miring orang terhadap agama. Akan tetapi, di balik cibiran itu bisa jadi ada asumsi keliru pencibirnya; bisa jadi ia melihat agama melulu sebagai fenomena sosial yang terlepas dari aktor bin pelaku atau agennya. Akibatnya, agama dipandangnya statis dengan stereotype atau stigma yang ditanamkannya sendiri terhadap agama. Hal ini juga bukannya tanpa alasan: setiap orang punya daya nalarnya sendiri-sendiri yang dipengaruhi oleh konteks dan komunitasnya sendiri untuk menangkap objek observasinya.
Saya beri contoh teks bacaan pertama hari ini untuk peringatan Pentakosta dalam tradisi Kristiani. Narasi teks itu begitu jelas sehingga pembacanya bisa saja membayangkan peristiwanya secara letterleijk: di atas kepala para rasul nongol semacam lidah api dan mereka omong dalam aneka bahasa. Teks ini kemudian jadi konsumsi sebagian orang Kristiani untuk memopulerkan bahasa roh yang, ironisnya, malah tidak dimengerti oleh orang kebanyakan. Padahal, bisa jadi, penulis teks bacaan pertama ini ‘hanya’ mau menggambarkan bagaimana situasi para rasul ketika mereka mendapat berkat yang dijanjikan oleh guru mereka: Roh Kudus.
Karena berkat itulah mereka bisa melintasi batas linguistik, geografis, politik, dan seterusnya. Untuk apa? Untuk mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan Allah dalam hidup manusia. Ya, dalam konteks dekat, perbuatan besar itu dipusatkan pada peristiwa Yesus dari Nazareth, tetapi jelas pusat dalam konteks jauhnya justru adalah Roh Kudus itu, yang melanglang buana menjangkau siapa pun untuk memakai bahasa baru: cinta persaudaraan.
Masuk akal, bacaan utama hari ini menyodorkan kriteria bahasa baru itu. Ini bukan bahasa yang tersusun dari kata-kata dalam tata bahasa manusia, melainkan bahasa cinta yang menguak misteri wajah Allah yang bisa jadi tercoreng oleh aneka gelojoh dan kebebalan manusia. Di sini, agama yang dipeluk oleh penganut medioker memang tidak akan bertaji di hadapan wajah Allah yang rusak oleh korupsi, konsumerisme, individualisme, dan seterusnya. Problemnya bukan bahwa agama itu medioker, melainkan pemeluknya, Anda dan saya, tidak bersuara apa-apa setelah melihat aneka drama politik dan konsesi tambang dan wajah alam yang tergerus oleh mental menghalalkan segala cara.
Tuhan, mohon rahmat supaya agama yang kami hidupi sungguh menguak wajah cinta-Mu. Amin.
HARI RAYA PENTAKOSTA C
8 Juni 2025
Kis 2,1-11
Rm 8,8-17
Yoh 14,15-16.23b-26
Posting 2019: Jangan Sampai Gosong
Posting 2016: Bapaaaaaak!
