Jangan Sampai Gosong

Film Flintstone yang saya tonton sewaktu saya masih mungil dulu sepertinya tidak menjelaskan kapan api ditemukan manusia purba Neanderthal 50 ribu tahun lalu. Saya tak ingat jadi apa saya 50 ribu tahun lalu, tetapi bisa saya bayangkan sebelum kapak api itu ditemukan [loh apa ketlingsut gitu po, Rom?], menjelang matahari terbenam, saya mesti masuk ke gua untuk menghindari hawa dingin yang menjadi-jadi. Bisa jadi, penemuan korek api, apa pun bahannya, merupakan salah satu penemuan penting dalam sejarah manusia. Dengan temuan itu, manusia berupaya melanggengkan ‘roh’ matahari, yang memberi cahaya dan kalor di siang hari. Ndelalahnya, penemuan api itu juga kemudian bermanfaat untuk aneka pekerjaan yang berhubungan dengan logam sehingga manusia bisa menciptakan aneka macam peranti atau perkakas dengan pemurnian logam.

Jadi, api itu rupanya bisa punya tiga fungsi: memberi kalor, cahaya, dan memurnikan. Bisa sih ditambah satu fungsi lagi, tetapi saya tak bisa mendefinisikannya: api asmara, eaaaaa.
Eh, tapi ini ciyus loh, api itu bisa jadi simbol cinta manusiawi! Kenapa? Soalnya cinta itu memang menghangatkan (bisa sampai panas bahkan, sebagian lagi gosong), memurnikan ego, dan menerangi hidup. Lha problemnya adalah, namanya juga manusia, ketiga fungsi itu kerap tak berjalan secara seimbang sehingga cinta manusiawi gosong sebelum ego dimurnikan sehingga hidupnya juga terang.

Dari sudut pandang perspektif Kristiani, Roh Kudus adalah cinta ilahi yang tidak tinggal diam dalam relasi eksklusif Trinitas. Justru karena Roh Kudus itulah relasi ilahi menjadi inklusif: hubungan cinta Yesus Kristus dan Allah Bapa diteruskan kepada manusia.
Memang sih, terlepas dari perspektif Kristiani atau tidak, cinta itu dari sononya ya tidak pernah eksklusif, kecuali direduksi sebagai asmara yang bikin gosong tadi (lalu bikin orang bawaannya marah, benci, dendam, dan seterusnya). 

Perayaan Pentakosta hari ini, dengan narasi lidah api, mengingatkan orang beriman bahwa pun cinta Allah punya karakter api yang ditemukan manusia purba Neanderthal tadi. Saya tak ambil pusing dengan peringatan Yesus naik ke surga sepuluh hari lalu dan hari ini Roh Kudus turun lewat lidah api: turun-naik itu hanya bahasa terbatas manusiawi untuk memahami misteri Allah. Kalau melihat teks-teks bacaan hari ini, ciri Roh Kudus yang adalah cinta ilahi itu memang terlihat.

Pertama, Roh Kudus memanasi hati para murid, menyalakan passion cinta pada junjungan hidup mereka dan membongkar tendensi mereka untuk hidup secara eksklusif dengan ‘bahasa roh’ yang malah tidak dimengerti oleh orang lain(!).
Kedua, Paulus menulis bahwa tubuh orang beriman itu, yaitu medium relasinya dengan orang lain, mesti dimurnikan oleh Roh Kudus. Mangsudnya? Ya bahwa relasi dengan sesama itu mengikuti logika cinta berkomitmen, bukan logika kepentingan egois yang menjerat.
Ketiga, Roh Kudus tidak menambahi apa-apa saja yang diwahyukan Allah, termasuk ajaran Guru dari Nazareth dan para nabi lainnya. Ia  menerangi budi dan hati orang untuk mengerti apa-apa saja yang diwahyukan Allah itu tadi.

Itu mengapa bisa terjadi orang beragama gontok-gontokan: karena hati dan budinya tak terbuka pada Roh Kudus. Yang satu tak percaya Roh Kudus, yang lainnya mengklaim diri pemilik tunggal Roh Kudus. Gosong deh.

Tuhan, mohon rahmat Roh Kudus-Mu supaya kami mampu mencinta tanpa jadi gosong. Amin.


HARI RAYA PENTAKOSTA C/1
9 Juni 2019

Kis 2,1-11
Rm 8,8-17
Yoh 14,15-16.23b-26

Posting 2016: Bapaaaaaak!

2 replies

  1. Kalau gontok-gontokan, mungkin malah justru yang di dalam nuraninya masih mentah Romo, belum matang, nyala api-nya mungkin kecil. Kalau sudah terlanjur gosong dengan nyala apa yang besar, ya sudah-lah, karena toh tidak tersisa apa-apa kecuali nyala api sendiri, mungkin dengan begitu dia justru tidak akan gontok-gontokan karena tidak ada yang dia lihat sendiri sesuatu bisa diagung-agungkan lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s