Mau Jadi Dokter?

Pernah mengamati bagaimana anak, keponakan, cucu Anda mempelajari sesuatu dari orang lain? Apakah ia mempelajari sesuatu dari kata-kata Anda perintahkan ataukah dari apa yang dia lihat? Apakah ia menyimak kata-kata Anda atau menyaksikan apa yang Anda lakukan?
Dari keponakan, saya belajar bagaimana orang menyerap sesuatu dari apa yang ia saksikan. Bisa terjadi yang disaksikan itu berhubungan dengan intonasi suara sehingga ia pun bisa menirukan kata-kata yang mengiringi perbuatan yang disaksikannya. Begitu seterusnya sampai orang belajar membedakan antara kata-kata dan tindakan, lalu orang jadi p(r)inter untuk mengikuti kesaksian orang lain daripada nasihatnya. Itu mengapa tak sedikit keluarga gagal membangun generasi yang baik karena nasihat cintanya tak sinkron dengan kesaksiannya.

Begini kiranya ungkapan seorang Paus (Paulus VI): orang sekarang lebih mendengarkan saksi keteladanan daripada nasihat para guru, atau kalau orang mendengarkan para guru, itu karena mereka jadi saksi keteladanan hidup.

Dalam teks bacaan hari ini, sehari sebelum Hari Raya Pentakosta, tidak disebutkan soal Roh Kudus, tetapi soal kesaksian. Tentu saja, tak ada kesaksian tanpa Roh Kudus, dan Roh Kudus bisa berarti apa saja seperti orang menafsirkan cinta. Baru benar-benar autentik jika kesaksian hidupnya memang mencerminkan prinsip keadilan dan kekuatan transformatif di tengah-tengah budaya yang melindas kepercayaan pada Allah yang senantiasa menjangkau umat-Nya dengan aneka macam cara.

Sayangnya, di negeri ini kiranya tak sedikit orang beragama yang menghadapi arus sekularisme justru dengan mengobarkan doktrin agama lebih daripada mengevaluasi cara bersaksi. Saking bencinya pada sekularisme, orang beragama malah membutakan diri dengan ideologinya sendiri seakan-akan Allah benar-benar absen dalam proses sekularisasi itu. Kebencian menjerat akal dan orang beragama lupa bahwa Allah senantiasa hidup dalam roh yang bisa menyergap siapa saja tanpa pandang haluan politik atau afiliasi religiusnya.

Justru dalam proses sekularisasi itulah umat beragama dipanggil untuk mempersaksikan kehidupan ilahi, bukan dengan kata-kata dan rumusan doktrin, melainkan dengan hidup insani yang lumrah, yang terukur dengan prinsip keadilan, kemanusiaan, dan seterusnya. Menanggapi proses sekularisasi dalam era globalisasi [kok kèk tema seminar apa gitu] dengan politik identitas [agama] malah hanya mengindikasikan kegalauan orang beragama. Kalau orang beragama itu percaya diri, yakin bahwa Allah itu punya sifat mahabesar dan mahahadir, tentu ia percaya juga bahwa Allah tetap bersama umat-Nya dalam pergumulan hidup di tengah arus sekularisasi. 

Beberapa tahun lalu saya ikut pertemuan bersama para dokter ahli sebelum proses operasi besar yang akan dijalani senior saya. Dijelaskan secara komprehensif komplikasi yang dialami senior saya ini dan bagaimana proses operasi dilangsungkan. Saya mengamati wajah-wajah para dokter: ahli sekularisasi. Mereka ahli saraf, jantung, anestesi, darah, dan lain-lainnya, bicara mengenai proses bagaimana hidup bisa dilangsungkan.

Yang membuat saya terharu, di akhir pertemuan menjelang operasi, mereka secara eksplisit mohon doa dan berkat, dan intuisi saya mengatakan bahwa permintaan itu bukan permintaan latah karena kami imam. Itu kelihatan dari penjelasan juru bicaranya mengenai kemampuan, keterbatasan, dan harapan mereka. Itulah contoh kesaksian hidup orang beriman di dunia sekular.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya hidup insani kami sungguh mewujudkan hidup ilahi-Mu. Amin.


SABTU PASKA VII
8 Juni 2019

Kis 28,16-20.30-31
Yoh 21,20-25

Posting 2018: Naif Tiada Henti
Posting 2017: Real Juve: Jerman

Posting 2015: Keterbukaan Kreatif, Keyakinan Naif

Posting 2014: Mind your own business

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s