Ketegangan Cinta

Semalam kami menonton film berjudul Hotel Mumbai, yang menarasikan kembali peristiwa teror di beberapa titik di wilayah Mumbai, India, pada akhir November 2008. Konon pelakunya adalah sepuluh pemuda Pakistan, yang membunuh dan melukai ratusan orang. Menonton film itu membuat saya gemas karena lambannya pasukan khusus penanganan teror yang menegangkan itu. Akan tetapi, saya tidak akan membahas rasa gemas atas kinerja aparat keamanan yang tak serapi detasemen khusus di sini karena teks bacaan hari ini tidak omong soal ‘gemas’. Teks hari ini omong soal ‘cinta’ yang bisa dibikin menegangkan juga, dan ndelalahnya, terorisme di Mumbai, sejauh dipaparkan dalam film Hotel Mumbai itu rupanya juga omong soal cinta. Ya maklumlah, atas nama cinta, sebagaimana atas nama Allah, orang bisa berbuat apa saja seturut kecupetan hati dan budinya.

Petrus yang ditanyai dengan kata-kata eksplisit mengenai ‘cinta’ tidak berada dalam level hati dan budi yang sama dengan yang dihidupi gurunya. Betul, Petrus belum punya kapasitas mencinta seperti yang dirujuk oleh gurunya. Apa toh yang dirujuk gurunya itu?
Sudah jamaklah orang menyodorkan cinta bersyarat: kalau engkau mencintai aku, ya segera lamar aku dong; kalau benar-benar cinta, ya berikan aku rumah dong; kalau sungguh cinta, ikuti perintahku dong!

Bukankah itu juga yang dikatakan Guru dari Nazareth? Bukankah dia meminta Petrus memenuhi permintaannya? Bukankah itu juga suatu cinta bersyarat, Rom?

Engga’ juga sih, karena permintaannya tidak mengarah pada kepentingan egoistik Guru dari Nazareth. Dia seakan-akan mengatakan,”Kalau kamu mencintai aku, cintailah domba-dombaku!” Dengan kata lain, Guru dari Nazareth tidak memberi syarat supaya Petrus mencintainya dengan aneka teriakan pujian sanjungan bombongan buaian kepadanya, tetapi supaya Petrus mengaktualkan dirinya sebagai pribadi penuh cinta untuk menggembalakan jemaat, untuk mencintai jemaat. Artinya, cinta kepada Guru dari Nazareth itu hanya masuk akal jika Petrus memang mencintai orang-orang yang dipercayakan kepadanya.

Pertanyaan “Apakah engkau mencintai aku?” senantiasa hidup dalam diri orang entah secara eksplisit atau implisit. Dalam adegan film Hotel Mumbai jelas ada ungkapan-ungkapan yang pokoknya berkenaan dengan cinta-cintaan itu. Akan tetapi, barangkali dengan gambaran pergumulan teroris yang mencintai keluarga mereka itu bisa dipahami secara gamblang bahwa rupanya hasrat orang akan uang dan kekuasaan sungguh-sungguh merenggut cinta sejati, bahkan cinta kepada Allah.

Sejak adegan salah satu pelaku teroris menanyai temannya tentang uang dan menelpon ayahnya dan menanyakan apakah mereka sudah mendapatkan uang dari pimpinan gerakan mereka, mengertilah saya bahwa tindakan mereka ini sama sekali bukan tindakan cinta kepada Allah, bahkan meskipun mereka beragama Islam dan rajin menyebut nama Allah yang mahabesar. Ini adalah ‘bisnis’ yang dengan jeli memanfaatkan sentimen agama sedemikian rupa sehingga cinta itu dimanipulasi juga dengan kekerasan.

Semakin yakinlah saya bahwa tidak ada cinta yang ditempuh dengan membenci. Tak ada orang yang sungguh mencintai Allah dengan membenci sesama sebagaimana tak masuk akallah mencintai sesama dengan membenci Allah. Cinta memang menegangkan karena di dalamnya orang mesti hidup dalam ketegangan antara yang insani dan ilahi. Yang ilahi mengarah ke universalitas cinta, yang insani cenderung membatasinya.

Tuhan, ajarilah kami cinta-Mu. Amin.


JUMAT PASKA VII
7 Juni 2019

Kis 25,13-21
Yoh 21,15-19

Posting 2018: HAM Teroris
Posting 2017: Jalan Peziarah

Posting 2016: Cinta Pret

Posting 2015: Makin Suci, Makin Banyak Dosa
Posting 2014: More Than Words…

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s