Politik Genderuwi

Ada orang-orang tertentu yang berperilaku seakan-akan punya dua atau tiga nyawa tetapi ketika nyawa pertamanya melayang, nyawa kedua dan ketiganya ternyata setia kawan, ikut melayang.
Manusia pada umumnya hanya punya satu hati, satu jiwa, satu tubuh, satu kehidupan. Ungkapan ‘hidup baru’ tidak merujuk pada kenyataan dua kehidupan yang terpisah, tetapi pada dua model kehidupan yang berkesinambungan. Pokoknya, manusia cuma punya satu itu tadi deh (gimana sih jelasinnya?).

Nah, yang satu itu bisa didedikasikan sekurang-kurangnya kepada genderuwo atau genderuwi #halahkenapasihpakainamaberawalanwiatauberakhiranwo. Orang mesti memilih kepada apa dan siapa hidup yang satu itu ia baktikan. Teks bacaan hari ini mengatakan bahwa orang tak bisa mengabdi dua tuan. Sebagian orang mau membuktikan bahwa itu mungkin saja, tetapi tidak bisa membuktikan karena gagasan dasarnya berbeda. Teks ini menunjuk pada hidup yang satu tadi, jiwa yang satu, tubuh yang satu, yang tak bisa dipecah-pecah.

Contohnya sangat sederhana. Dengan segala hormat kepada korban tragedi, kasus rebutan jenazah antara istri pertama dan istri kelima menunjukkan bagaimana hidup manusia yang mengalami keterpecahan. Saya tidak mempersoalkan hukum yang bisa dibuat untuk mengelola supaya istri-istri tidak berebutan, atau bahwa sebetulnya lima istri itu cuma hoaks, tetapi kenyataan itu menunjukkan secara jelas bahwa di kedalaman hati setiap orang, ada tendensi untuk membaktikan hidupnya bukan kepada Allah yang esa, melainkan kepada ciptaan-Nya. Sebetulnya sih itu sama dengan memberhalakan Tuhan dan orang yang memberhalakan Tuhan itu bisa dipastikan mengalami keterpecahan dalam hidupnya, tidak connect dengan dirinya sendiri, tidak connect dengan semesta, dan kalau beragama, agamanya jadi genderuwo.

Loh agama kok genderuwo tuh gimana sih Mo?
Sudah dijelaskan oleh presiden NKRI mengenai politik genderuwo, jadi kira-kira begitulah. Tak sedikit orang beragama mengajari yuniornya dengan politik genderuwo itu: ntar kiamat, kau ancur masuk neraka. Kalau dalam praktik Gereja Katolik, ini terjadi begitu kental pada abad gelapnya dulu (mungkin juga sekarang): yang diutarakan sih suci-suci, tetapi sebetulnya cuma kedok untuk suatu politik identitas, politik kekuasaan.

Lihatlah anak-anak yang ditakut-takuti orang dewasa. Kalau bohong, Tuhan mendatangkan hukuman. Kalau mencuri, Tuhan akan membuat bencana. Kalau di dunia ini korupsi, nanti di neraka bakal dimutilasi berkali-kali. Pokoknya kalau dosa, nanti bakal dijilati api neraka.
Lalu, si anak takut, orang dewasanya puas karena bisa menguasai si anak. Apa gak mengerikan agama seperti itu? Bukan cuma mengerikan, melainkan juga menjijikkan.

Barangkali, pahlawan zaman sekarang adalah mereka yang mengatasi ketakutan dirinya maupun ketakutan orang lain juga dalam hidup beragama. Membebaskan keterkungkungan diri yang membuat orang cuma mau escape dari kompleksitas hidup ini, tak mau berdialog dengan roh yang bisa hadir dalam aneka manifestasinya. Dialog macam itu baru mungkin dibuat kalau orang tidak mengalami keterpecahan dalam hidupnya, kalau orang tahu kepada siapa ia membaktikan hidupnya dan bagaimana mengelola dunia tempat tinggalnya bersama supaya bisa membaktikan hidup kepada Yang Maha Esa itu.

Tuhan, bebaskanlah kami dari politik genderuwo.


SABTU BIASA XXXI B/2
Hari Pahlawan
10 November 2018

Fil 4,10-19
Luk 16,9-15

Sabtu Biasa XXXI A/1 2017: Jadi Pahlawan Zaman Now 
Sabtu Biasa XXXI C/2 2016: Semoga Cepat Waras
Sabtu Biasa XXXI B/1 2015: Cipi Kaki Kudus

Sabtu Biasa XXXI A/2 2014: Ayo Bebenah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s