Pembalut Halal

Miris rasanya melihat aneka macam berita ketidakwarasan orang dalam berpikir. Ini bukan soal anak jalanan dengan rebusan pembalutnya (atau pembalut tetangganya), melainkan soal orang-orang dengan atribut akademis omongannya jadi ngawur karena mengabdi kepentingan politik kekuasaan. Kalau kengawuran ini dijadikan bahan nyinyiran di dunia maya, yang saya risaukan bukan bahwa mayoritas penghuninya mendukung ketidakwarasan berpikir itu. Saya masih percaya bahwa mayoritas penduduk dunia maya membela kewarasan berpikir. Yang saya risaukan ialah belum adanya jalan tol dari dumay ke dunya. Dunia maya memenangkan kritikus ketidakwarasan berpikir tetapi dunia nyata didominasi mentalitas post-truth: sentimen emosional lebih menentukan kebenaran. Ini bisa jadi genderuwo.

Baiklah, cukup di situ lingkaran kekhawatirannya. Guru dari Nazareth memang mengkritik ahli Taurat dan memuji janda miskin, tetapi kalau kritik terhadap ahli Taurat itu tidak jadi autokritik bagi pembaca, pembaca lebih banyak buang-buang waktu untuk nyinyir. Lha, autokritiknya gimana Rom?
Autokritiknya bisa dilakukan dengan melihat kontras antara ahli Taurat itu dan janda miskin. Dalam posting terdahulu sudah diindikasikan beberapa kontrasnya. Hari ini saya mau melihat kontras dari pakaiannya saja.

Saya pernah menonton video yang menjelaskan bagaimana ahli Taurat pada zaman Guru dari Nazareth itu mengenakan pakaian mereka. Yang paling menarik saya bukan dua belas batu akik yang berkilauan yang menghiasi bagian dada mereka sehingga bisa menarik perhatian mata orang lain. Angka dua belas itu masih bisalah diberi makna sebagai penanda dua belas suku Israel. Yang paling menarik perhatian saya ialah pada bagian bawah jubah mereka itu ada lonceng-lonceng kecilnya. Cool banget, kan? Dengan lonceng-lonceng kecil itu, kalau ahli Taurat ini berjalan, mesti ada bunyi krincing-krincing dan orang yang tidak tuli di dekatnya akan segera tahu bahwa ada ahli Taurat di situ. Saya tak tahu berapa jumlah loncengnya, apakah dua belas juga untuk menandakan jumlah suku Israel atau sembilan belas untuk persiapan pemilu, eaaaaa.

Saya tidak mengatakan bahwa rancangan pakaian itu menunjukkan ketidakwarasan berpikir, tetapi jelaslah di situ, sebagaimana dikritik oleh Guru dari Nazareth, bahwa perhatian jadi begitu penting demi status ahli Taurat yang pantas dihormati. Di situlah autokritiknya: orang bisa kêwowogên agama, inflasi agama sedemikian sehingga perhatian, kehormatan, kekuasaan jadi lebih penting daripada pemuliaan kemanusiaan. Orang-orang seperti ini tak bisa bekerja senyap, tak bisa bekerja di balik layar, tak bisa menerima kesetaraan, cenderung minta privilese, dan seterusnya.

Orang beriman berfokus pada kebaikan Allah, sedangkan orang beragama yang kurang beriman berfokus pada kehormatan atau pujiannya.Orang beriman mesti jeli membedakan mana kehormatan, popularitas, nama baik, sebagai konsekuensi dan mana ketenaran, penghargaan, pujian sebagai tujuan. Yang terakhir ini trade mark pemuka agama di zaman Guru dari Nazareth. Agama jadi pembalut gelojoh kehormatan dan kekuasaan. Pesan moral blog ini sebaliknya: biarlah agama dibalut oleh aksi memuliakan Allah dan manusia, maka tak usah cari kehormatan, pujian, popularitas, nama baik dan sejenisnya, biarkanlah itu tiba hanya karena agama memang secara diam-diam jadi dapur yang meramu keluhuran umat manusia. Pembalut agama adalah kemanusiaan dan bukannya kemanusiaan dikungkung agama.

Ya Tuhan, bebaskanlah kami dari keinginan untuk dihargai, dipuji, atau dihormati. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXII B/2
11 November 2018

1Raj 17,10-16
Ibr 9,24-28
Mrk 12,38-44

Posting 2015: Janda Miskin Yang Kaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s