We are the champions

Saya belum menonton Bohemian Rhapsody dan pasti tak akan bisa menontonnya minggu ini karena paper ujian komprehensif mesti ditumpuk minggu depan 😥😥😥. Ada request tulisan mengenai album Queen yang hit itu. Padahal, nemo dat quod non habet. Tapi tenang, katanya orang beriman itu percaya dan pasrah 😅😅😅 dan saya percaya saja pada kesaksian teman serumah yang sudah menyaksikannya. Gimana gak mau percaya, dia ini sutradara lulusan Perancis, jadi pakarlah ia soal film, dengan segala intrik-intriknya.

Tetapi, Anda tahu, tulisan pada blog ini umumnya merupakan framing hidup beriman. Maka dari itu, ini bukanlah review atau spoiler film. Kalau mau ngerti bagusnya Bohemian Rhapsody, silakan tonton filmnya sendiri atau berdua atau dengan rombongan sekolah.

Teks hari ini bicara begitu konkret mengenai dosa dan pengampunan, tetapi tak perlu buru-buru memakai dua kata itu sebagai inventaris keagamaan. Maka, di sini Bohemian Rhapsody bisa masuk pak Eko #eh. Saya tak percaya bahwa film ini adalah biografi Queen, sebagaimana saya tak percaya bahwa film A Man called Ahok adalah biografi BTP. Film mesti punya ideologinya sendiri. Ini sudah saya uraikan pada posting mengenai kesadaran media (silakan klik merah-merah itu kalau mau membacanya). Akan tetapi, tetap ada narasi yang menarik perhatian saya: bagaimana Freddy Mercury mengalami dinamika tobat seperti juga dialami Karin yang beberapa waktu lalu saya singgung di sini.

Kata teman saya yang sutradara itu, teman-teman Freddy punya background sekolahan, berpendidikan tinggi, tidak seperti Freddy. Katanya bahkan ada dokter giginya loh seperti temannya teman saya yang sutradara itu, entahlah dia pianis atau drummer. Pokoknya, para pemusik rekanan Freddy ini adalah orang-orang terpelajar. Bisa Anda bayangkan bagaimana orang seperti itu beradaptasi dengan Freddy yang semula begitu pemalu dan kemudian malah menunjukkan arogansi dirinya ketika ia mulai memikirkan untuk bersolo karir. [Bayangkanlah jika Kaltim atau Papua mau bersolo karir, bubarlah NKRI.]

Betul saja, Queen bubrah. Akan tetapi, pikiran solo karir rupanya tak datang dari diri Freddy sendiri. Ada semacam agen yang memberi iming-iming popularitas. Ndelalahnya, iming-iming itu klop dengan dorongan dasar akan kebebasan, termasuk bagaimana Freddy menghidupi seksualitasnya. Singkatnya, dampak relasi kompleks Freddy ini membuat hidupnya amburadul. Tentu bukan itu yang penting. Yang penting bahwa akhirnya ia menyadari keadaan dirinya, di mana dia berpijak, dan mau ke mana ia mengarahkan hidupnya. Freddy datang kembali dan minta maaf dan, katanya, kalau ada orang datang minta maaf, Anda dipanggil untuk memaafkannya. Setelah itu bagaimana, ya dirembug saja, tapi rembugannya sudah dilandasi tobat dan maaf.

Film ditutup dengan scene Live Aid 1985 dengan lagu terakhir We are the champions dan persis di situlah poinnya. Di hadapan misteri hidup ini, tak eloklah orang bertengkar karena kerapuhan hidup orang sehingga manusia sendiri malah terpuruk tanpa terang kebangkitan. Adalah jauh lebih berguna orang mengambil tanggung jawab hidupnya sendiri juga bersama orang lain untuk keep on fighting till the end. Apa yang diperjuangkan? Kemanusiaan (yang diridai Allah).

🙏🏼 Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk menyatakan kemanusiaan-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXXII B/2
Peringatan Wajib S. Yosafat
12 November 2018

Tit 1,1-9
Luk 17,1-6

Senin Biasa XXXII A/1 2017: Walk Out Lagi
Senin Biasa XXXII C/2 2016: Show of Force
Senin Biasa XXXII A/2 2014: The Real Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s