HaRum Raisin

Untuk bahagia, orang tak perlu punya keahlian khusus, jadi anggota pasukan khusus, atau tinggal di kompleks khusus. Kuncinya detachment (sikap lepas bebas). Entah Anda berkemampuan khusus atau tidak, jika ada detachment terhadapnya, Anda bahagia. Sebaliknya, jika Anda punya kemampuan khusus, punya privilese, dan Anda attached padanya, kebahagiaan Anda terancam. Singkatnya, untuk hidup bahagia, Anda cukup butuh detachment.

Apa berarti orang sebodo’ amat dengan privilesenya dan berakibat (pacarnya, suaminya, prestasinya, hartanya) direbut orang lain? Memang!
Wooo, pancèn Romo kisruh!😡
Orang yang bahagia-tanpa-syarat percaya bahwa anything may happen. Dengan begitu, ia tidak ancur karena misalnya pelakor membuat sang pasangan berpindah ke lain hati. Romo ini benar-benar kisruh ya! Tidak sensitif!😡😡
Sebelum lebih jauh menilai, saya mengajak Anda untuk sekadar membedakan yang deskriptif (das Sein) dari yang normatif (das Sollen). Yang deskriptif berarti hal yang memang senyatanya terjadi. Yang normatif berarti hal yang semestinya terjadi. Mencampuradukkan keduanya bisa bikin sungut Anda memanjang.🤔

Detachment berlaku untuk hal-hal yang deskriptif tadi.

Anda bisa puas atau kecewa, senang atau sedih, bangga atau jengkel melihat data jumlah penonton dua film itu, bergantung dari sudut pandang mana Anda melihatnya. Bahkan, Anda boleh saja melihat data itu dengan logika lampu merah: warna hijau untuk penonton yang masuk bioskop dan merah untuk penonton yang absen 😄😄😄demi manipulasi rasa, menyenangkan diri Anda sendiri. Boleh juga kok Anda bersama HR penulis buku-yang-difilmkan itu mengatakan bahwa yang merah-merah banyak itu diborong sendiri oleh oknum berduit. Boleh, boleh, boleh banget.

Akan tetapi, terhadap yang deskriptif, detachment lebih kondusif. Kacamata normatif (salah-benar, haram-halal, dosa-pahala, buruk-baik, dan sejenisnya) pada pandangan pertama malah merepotkan. Lebih baik orang melihat baik-baik data dan kenyataannya.
Iya, tapi itu kasus beda banget karena gak terhubung dengan suami saya! Coba kalau suami saya direbut pelakor!😡😡😡 [Lhaya coba saja to😅]

Kalau pasangan Anda direbut orang atau sesuatu, yang mesti dibuat, setelah melihat kenyataan apa adanya, adalah mawas diri: barangkali ada yang seharusnya Anda dan pasangan Anda buat itu tak jalan, cari akar persoalannya dan temukan alternatif pemecahannya (jika mungkin bersama-sama). Lha, kalau baper dan marah-marah gimana mau memecahkan persoalan? Gimana mau happy?

Silakan lihat kerja keras atlet handal, bertanding sengotot-ngototnya tetapi masih bisa tertawa jika kehilangan poin atau kalah. Begitulah semangat magis dalam kerangka Azas dan Dasar: ngotot tapi detach. Tanpa detachment, ngotot bukanlah manifestasi semangat magis, melainkan attachment. Memang sih, detachment tanpa prinsip sama saja dengan indiferentisme (lèlèh luwèh) dan jadinya kisruh. Teks bacaan hari ini mengundang orang fokus pada apa yang pantas dikerjakannya: mengerjakan hal biasa itu secara luar biasa. Di mana luar biasanya? Itu tadi: ngotot tapi detach [jangan-jangan itu keahlian khusus juga 🤔].

Njuk apa hubungannya dengan judul je Rom? Haaaa Rum Raisin itu esgrim kesukaan saya, tapi kalau itu gak ada, saya juga no problem😂.

🙏🏼 Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian untuk melakukan hal biasa secara luar biasa. Amin.


SELASA BIASA XXXII B/2
Peringatan Wajib S. Stanislaus Kostka SJ
13 November 2018

Tit 2,1-8.11-14
Luk 17,7-10

Selasa Biasa XXXII A/1 2017: Kangen Gubernur
Selasa Biasa XXXII C/2 2016: Penjarahan Pake’ Agama
Selasa Biasa XXXII B/1 2015: Pahlawan Tak Berguna

Selasa Biasa XXXII A/2 2014: Mau Muntah sebelum Blusukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s