Kangen Gubernur

Saya kopikan sharing seorang eks tukang taman yang dimuat di media daring begini: Saat inspeksi yang kebetulan sedang masa kampanye tersebut, ada rekannya yang bertanya kepada Ahok. “Pak, kalo kita milih bapak nanti naik gaji ga’?” tanyanya. Dijawab Ahok, “Ngga. Tapi saya janji kamu tetep bakal ada pekerjaan. Kalo mau naik gaji ya kerja keras lah!”

Saya tak mengasumsikan dialog itu memang senyatanya begitu. Anggap saja itu fiksi yang hendak mengungkapkan kerinduan warga terhadap mantan gubernurnya yang joejoer dan dipenjarakan karena persoalan seputar kata “pakai”. Ada juga yang divonis penjara karena persoalan seputar kata “pakai”, tetapi mungkin takkan dirindukan sebagaimana Ahok dirindukan. Eh, ngelantur. Tadi saya kutip dialog di atas karena nyangkut bacaan hari ini kok.

Di mana sangkutannya? Bacaan hari ini omong soal mentalitas pengemban mandat: gratuity. Ini kata dekat-dekat gratis tapi artinya malah sebaliknya: persen, tip, uang sogok, suap. Ini justru yang perlu dihindari dalam diri orang beriman. Pada umumnya memang orang menyimpan harapan akan ungkapan terima kasih berupa balas jasa. Tak mengherankan bahwa eks tukang taman tadi melontarkan pertanyaan bermotif do ut des itu: kalau aku pilih kamu, gajiku naik gak? Dijawab tegas,”Enggaklah! Kalau mau naik gaji ya kerja keras.” (Jadi ingat bacaan lain mengenai Muhammad Shahrur: In a reminiscence, given in an interview in 1996, Shahrur fondly recalled how his father had pointed to the stove of the house and said: “if you want to warm yourself, don’t recite the Qur”an, but light a fire in the stove.”)

Juga dalam jawaban Ahok itu tersembunyi kerangka bahwa seorang pekerja berhak mendapatkan upahnya. Tentu saja, itu manusiawi. Bacaan hari ini menilik relasi yang berbeda: kalau bisnisnya dengan Allah, tak ada klaim yang bisa dibuat. Dengan Allah yang mahabesar itu orang tinggal memilih untuk menerima panggilan-Nya atau menolak, dan kalau menerima panggilan-Nya, tak ada yang bisa diklaim dari Allah. Ini bukan barter. Mau jalankan perintah Allah ya jalankan saja sepenuh hati, tanpa syarat. Begitu muncul syarat, ternodalah kepasrahan iman kepada Allah.

Lagi-lagi, tolok ukurnya adalah kebahagiaan. Aneh kalau Allah Sang Cinta itu menginginkan umatnya menderita. Orang yang cinta sesama aja menginginkan kebahagiaan orang yang dicintainya, mosok Tuhan malah meminta orang menderita? Sepertinya rada aneh ungkapan “menderita demi Tuhan”. Sakit, cedera, kesusahan, tragedi, bisa jadi bagian hidup manusia, tetapi itu tak berarti bahwa orang menderita. Melaksanakan kehendak Allah bisa jadi ribet, menyusahkan, dipenjara, dihina, dst, tetapi kalau di situ orang tidak happy, bisa jadi ketulusan tiada, keikhlasan absen.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin tulus ikhlas menjadikan kehendak-Mu lebih daripada kehendak kami sendiri. Amin.


HARI SELASA BIASA XXXII A/1
14 November 2017

Keb 2,23-3,9
Luk 17,7-10

Selasa Biasa XXXII C/2 2016: Penjarahan Pake’ Agama
Selasa Biasa XXXII B/1 2015: Pahlawan Tak Berguna
Selasa Biasa XXXII A/2 2014: Mau Muntah sebelum Blusukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s