Walk Out Lagi

Katanya Henry J.M. Nouwen pernah menulis begini: Ketika kita hidup seolah-olah relasi antarmanusia hanya bersifat manusiawi (dan karenanya tunduk pada perubahan norma dan kebiasaan manusia), kita hanya bisa menuai fragmentasi dan keterasingan yang begitu besar, yang mencirikan masyarakat kita. Tapi ketika kita memohon kepada Tuhan dan senantiasa memercayai-Nya sebagai sumber semua cinta, kita akan menemukan cinta sebagai anugerah-Nya.

Berhubung di medsos sudah begitu viral kasus walk out 1211 [kenapa gak terjadi pada 411 sih untuk mengenang gerakan setahun sebelumnya?], saya pakai contoh itu aja deh untuk menerangi tulisan Henry Nouwen tadi. Jadi ceritanya ada gubernur yang diundang untuk jadi pembicara pembukaan suatu acara dari suatu lembaga pendidikan, tapi sewaktu gubernurnya bicara, orang yang kemropok alias geregetan bin gemes dan jengkel pada gubernur itu melakukan aksi walk out. Jadi heboh deh karena akhirnya melibatkan beberapa undangan lain dan acara itu jadi ajang kritik sana kritik sini.

Tentu saya tidak ingin mengkritik sana sini. Kan tadi sudah saya bilang peristiwa itu saya pakai sebagai contoh untuk menerangi tulisan Henry Nouwen. Karena orang hidup seakan-akan relasi antarmanusia itu hanya bersifat manusiawi, akhirnya orang menilai dengan tolok ukur manusiawinya sendiri-sendiri. Janji palsu politik ya gak apalah, ntar juga paling cuma dikritik sana-sini, yang penting dapat posisi. Akibatnya, bisa diduga, mesti ada pihak yang kecewa dan berkeluh kesah dan bahkan demo, termasuk dengan walk out, entah sendirian atau mengajak teman. Lha, setelah itu pasti akan ada yang mengkritik ungkapan kekecewaan itu, dan terus begitulah tak kunjung usai. 

Orang jadi terasing dari substansi persoalan, bahkan dari dirinya sendiri. Dari mulut terucap “fine” tanpa mengerti kekeliruan besar dalam dirinya sendiri dan membungkusnya dengan mulut manis. Dari pikirannya bisa muncul keyakinan bahwa berdiri di pihak yang benar seakan-akan kebenaran itu semata berasal dari pikirannya sendiri. Begitulah orang-orang modern yang mengalami fragmentasi dan terasing bahkan dari dirinya sendiri; semua jadi terbolak-balik, yang salah jadi seakan-akan benar dan yang benar disalahkan.

Bacaan hari ini mengindikasikan suatu hidup ilahi: ampunilah mereka yang menyesal dan meminta ampun seberapa banyak mereka minta. Lah, kalau mereka ini gak menyesal dan minta ampun [kan mereka terasing dari diri sendiri jadi bahkan gak ngerti kesalahan mereka sendiri]? Ya tegur, dong!

Lah, walk out tadi bukannya mekanisme untuk menegur? Iya, itu mekanisme teguran di rapat politik, dengan asumsi bahwa ini adalah urusanmu dan urusanku atau urusan kami dan kalian! Nah, betul juga kan yang dibilang Henry Nouwen: karena relasinya cuma bersifat manusiawi, ngotot di segala level jadi andalan, dan akhirnya tak kunjung usai, orang tak masuk dalam relasi manusiawi sesungguhnya (aku-kamu jadi kita), relasi yang juga merupakan karunia dari Allah sendiri. Tak ada orang yang bisa menyisipkan paksaan terhadap karunia Allah macam begitu.

Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati dan pengampunan supaya kami mampu menanggung kebodohan kami sendiri. Amin.


SENIN BIASA XXXII A/1
13 November 2017

Keb 1,1-7
Luk 17,1-6

Senin Biasa XXXII C/2 2016: Show of Force
Senin Biasa XXXII A/2 2014: The Real Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s