Hai, Gadis Bodoh

Saya tak bisa datang ke pernikahan Bobby-Kahiyang di pertengahan minggu ini karena memang tak mendapat undangan, tapi konon nuansa multikultur ada di sana. Kultur Yahudi gak ada, mungkin karena penyelenggaranya tahu bahwa kultur Yahudi akan ditampilkan pada hari Minggu ini di Gereja Katolik (ngomyang apa je, Ma?). Katanya, pernikahan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, kedua calon itu mendeklarasikan diri di hadapan keluarga dan para saksi bahwa mereka berkehendak untuk menjadi suami istri dan dokumen resmi bahwa mereka berpasangan dikeluarkan oleh petugas. Lalu mereka kembali ke rumah masing-masing dan selama setahun kedua pasangan ini tak (boleh) bertemu alias dipingit. [Wuaaaa…. setahun mana tahan?]

Yang dikisahkan dalam bacaan hari ini adalah tahap kedua pernikahan Yahudi: sang suami menjemput istrinya di rumah (kontrakan) mertuanya. Menurut bacaan hari ini, karena sang suami menjemput istri di malam hari, tersedia sepuluh perempuan yang bertugas menerangi jalan bagi sang suami untuk sampai ke rumah (kontrakan) istrinya. Sepuluh itu simbolik untuk totalitas, terdiri dari dua grup berjumlah lima perempuan bodoh dan pintar. Siapakah mereka ini?

Tuncep poin: mempelai pria itu dimaksudkan sebagai Allah sendiri yang setia kepada umat Israel, yang dinanti-nantikan oleh lima perempuan pintar-pintar dan lima perempuan bodoh-bodoh itu. Dengan kata lain, sepuluh perempuan itu merujuk pada bangsa Israel sendiri: ada yang bijak, ada yang bego‘. Yang bijak, misalnya, sosok Simeon yang senantiasa atentif, well-prepared, menantikan Mesias. Yang bego’, dengan demikian, adalah umat beriman yang kehilangan sikap atentif dalam menantikan kedatangan Tuhan itu. Siapa dong? Tampaknya itu adalah gambaran umat yang kepadanya Injil hari ini ditulis: jemaat Matius 50 tahun pasca peristiwa Yesus, yang mulai bosan, kehilangan inspirasi, percaya pada ajaran-ajaran sesat yang lebih menggiurkan untuk diikuti.

Pada teks diberi keterangan ‘waktu tengah malam’ dan itu menandakan momen segelap-gelapnya, pada saat bahkan orang kehilangan kesabarannya, mungkin kehilangan harapan dan kepercayaan, Tuhan justru hadir. Dyarrrr kowe! Ini bukan soal kiamat. Ini soal hidup sekarang dan di sini, yang dilingkupi juga dengan kekuatan gelap (yang tampaknya tak pernah kelar: coba lihat orang-orang yang main politik untuk kepentingan sempit itu, dari level rendah sampai tinggi). Siapa yang paling atentif akan kedatangan Tuhan tadi, yang dalam teks dikatakan suara orang berseru? Iya, betul, itulah suara kenabian, siapapun nabi itu (lha wong memang tugasnya nabi menyuarakan kedatangan Tuhan). 

Gadis bijak terbilang dalam kelompok para nabi tadi, yang atentif dan senantiasa berjaga dengan persiapan yang baik. Gadis bodoh, tidak. Mereka memilih kegelapannya sendiri. Penolakan gadis bijak untuk memberikan minyak menegaskan bahwa setiap orang pada dirinya sudah ada modal cukup dan karenanya perlu mandiri mempertanggungjawabkan hidupnya. Tak ada orang yang bisa titip kewaspadaan, cinta, iman, kepada orang lain. Setiap orang dewasa mesti memilih dari dirinya sendiri, dan tidak minta dikunyahkan orang lain [maka dari itu saya tidak membuat renungan, pembacalah yang bikin, hahaha…]. Maka, di akhir perumpamaan disisipkan pesan: hati-hati ya, kamu sendiri yang memilih, menentukan mau hidup dalam pesta terang atau kegelapan.

Tuhan, mohon rahmat kesetiaan dan harapan iman kami, terutama di saat-saat tergelap hidup kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXII A/1
12 November 2017

Keb 6,13-17
1Tes 4,13-18
Mat 25,1-13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s