Agama Najis

Mengenai bacaan hari ini sudah ada komentar dengan judul Katanya Sudah Siap, Kok… Catatannya tentang #eh,bacasendiridongkantinggalklikyang-font-nyamerahitu. Hari ini saya bocorkan aja bahwa tulisan Lukas ditujukan kepada orang non-Yahudi (kafir) yang kemudian hendak mengikuti (murid) Yesus dari Nazaret. Mohon maklum jika ada keberpihakan kepada kafir. 

Yesus melanjutkan perjalanan ke Yerusalem lewat perbatasan wilayah kafir. Ini jadi perjalanan jauh dari periferi ke pusat agama Yahudi dan sangat simbolik: dari agama yang bersembunyi pada diri sendiri menuju agama yang terbuka dan sangat ramah terhadap sesama sebagai saudara satu Bapa. Maaf, ini istilah Kristen, pokoknya saudara dalam iman kepada Allah sebagai sumber yang sama.

Akan tetapi, menurut hukum Yahudi, orang kusta itu kehilangan hak hidup bersama keluarga. Mereka dibuang secara sistematis karena hukumnya begitu: Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya (Im 13,45-46). Piye mereka bisa mengeluarkan diri dari kenajisan? Orang yang menyentuh mereka pun bahkan jadi najis, dan dengan demikian terhalang untuk berdoa, mendekat kepada Tuhan.

Teriakan sepuluh orang kusta itu jadi satu-satunya cara untuk connect dengan orang. Tapi apa mau dikata, yang diperbolehkan cuma teriakan ‘najis, najis’ tadi. Menariknya, teriakan orang-orang kusta ini berbeda,”Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Sebetulnya tanpa diminta, Yesus dan orang lain yang bisa mikir ya kasihan melihat kondisi mereka dalam lingkaran setan (sakit tapi cuma bisa memvonis diri najis supaya orang lain yang tak najis pergi menjauhinya). 

Meskipun demikian, jawaban Yesus juga mencengangkan. Dia tak menyentuh mereka, dan dengan demikian tidak menajiskan dirinya sendiri menurut hukum Yahudi. Ia menanggapi teriakan mereka,”Sana pergi ke imam!” Para imam punya otoritas menentukan apakah orang sudah tidak najis atau masih najis. Aneh, bahwa mereka yang jelas sakit kusta itu malah diminta menghadap para imam; ya jelas divonis najis to ya!

Butuh iman yang kuat di pihak orang-orang kusta itu, dan ternyata memang di tengah jalan mereka sembuh. Yang sembilan orang mungkin Yahudi, yang satu adalah orang Samaria yang kafir. Sebetulnya masuk akal juga kalau si orang Samaria ini kembali kepada Yesus, wong dia orang Samaria, ngapain mesti lapor kepada imam orang Yahudi? Saya duga dia tidak meneruskan jalannya ke para imam, tapi entahlah, saya tidak sempat ikut mereka saat itu, masih ada tugas paper yang mesti saya selesaikan.

Pesan bacaan yang saya tangkap hari ini adalah pertanyaan Yesus: Tidak adakah di antara sembilan orang tadi yang kembali untuk memuliakan Allah?
Tentu tidak, Sus, karena mereka kira memuliakan Allah itu cukup dengan memenuhi aturan hukum agama!

Ada tendensi untuk menaati hukum lebih dari yang lainnya karena itulah cara supaya orang berkenan di hadapan Tuhan. Pertanyaan Yesus rupanya memuat tendensi sebaliknya: bukan melandasi kemuliaan Allah dengan sikap legalistik, melainkan membangun ketaatan agama dari kemuliaan Allah, yang digambarkan orang Samaria itu dengan relasi gratitudenya dengan Tuhan.


HARI RABU BIASA XXXII A/1
15 November 2017

Keb 6,1-11
Luk 17,11-19

Rabu Biasa XXXII B/1 2015: Utamakan Selamat
Rabu Biasa XXXII A/2 2014: Revolusi Mental Pengemis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s