Khilaf Ah

Katanya, healing men from their ingratitude is much more difficult than healing them from their illnesses.
Cobalah menyembuhkan sakit ginjal, meskipun mungkin butuh uang banyak, penyembuhannya tetap lebih mudah daripada sakit Gaji Ingin Naik tapi kerJAnya Lamban. Begitu pula sakit jantung mungkin prosedur penanganannya lebih jelas daripada sakit Jarang ngANtor tapi TerUs Ngarêp Gaji. Barangkali juga obat flu bisa lebih mudah diperoleh daripada obat Fesbuk meluLU, eaaaaaa…..
Itu belum singgung soal sakit hati loh ya, yang bisa bikin program diet irit, efektif dan gratis pula.

Meskipun demikian, pernyataan penulis Prancis itu juga mengingatkan saya pada penyakit yang bisa jadi sumber dari penyakit-penyakit lain yang menjengkelkan tadi. Penyakit apakah itu? Penyakit yang berhubungan dengan cara orang beragama. Seperti apa itu penyakit kok malah berhubungan dengan agama? Bukankah agama semestinya jadi alternatif pengobatan penyakit? Haiya, mestinya, tetapi justru karena agama itu obat, ia bisa disalahgunakan juga. Siapa yang menyalahgunakan? Tentu saja mereka yang korup. Siapa yang korup? Ya mereka yang berorientasi pada powerlah, siapa lagi? Lho, tapi memangnya siapa yang berorientasi pada power itu, Rom? Mboh, carilah sendiri.😝

Kemarin saya dapati foto undangan diskusi terbatas mengenai kekhalifahan Islam sedunia.
Padahal, sudah jelas-jelas HTI dengan konsep khilafahnya secara resmi dibubarkan di negeri ini.
Loh, Romo jangan berburuk sangka dulu dong, itu kan penyelenggaranya bukan HTI. Lagipula, siapa tahu mereka mau membahas buku Islam and the Secular State: Negotiating the Future of Shari’a tulisan Abdullahi Ahmed An-Na’im? Di situ ada kajian tentang Indonesia loh!
Iya sih, itu mungkin juga, tapi ngapain diskusi akademik kok bukan untuk umum dan dilakukan di kompleks tempat orang beribadat?

Simpatisan HTI sewajarnya bersyukur bahwa pembubaran HTI tidak diikuti tindakan brutal seperti terjadi pada zaman menjelang “Orde Baru” dulu. Pun jika mereka bukan simpatisan HTI, poinnya tetap perlu dicamkan bahwa khilafah di Indonesia tak sejalan dengan Pancasila dan UUD ’45. Kalau memang khilafah bisa diadaptasi, ya jangan bicara sendiri, bicarakan dengan orang lain yang juga mesti beradaptasi dengan Pancasila dan UUD ’45. Singkatnya, sejalan dengan nasihat teks bacaan pertama hari ini, sebagai warga negara, meskipun bisa saja bersungut-sungut karena menganggap pemimpinnya gak becus, orang mesti tunduk kepada penguasa yang sah demi kebaikan bersama. Tentu diasumsikan penguasa di sini tak menerapkan aturan main yang melanggar hak azasi warganya.

Loh kok jadi ngelantur ke HTI dan pemerintahan sih, Rom?
Emang, itu contoh aja untuk sembilan yang tidak kembali berterima kasih. Siapa mereka? Orang beragama. Persis. Yang tak tahu terima kasih atau bersyukur justru orang yang kental menyuarakan agama. Ironis memang, tetapi begitulah kenyataannya. Maka berlaku juga untuk Anda dan saya, benarkah cara beragama kita jadi ungkapan syukur atau jadi ajang untuk cari kuasa? Kalau jawabannya yang kedua, jangan-jangan agama kita itu menggembar-gemborkan “Khilaf ah“. Bukannya dalam bahasa Indonesia khilaf itu salah ya?
Iya, Rom, tapi gak disengaja salahnya.
Yeeee gak disengaja sih pakai ngundang segala!

Tuhan, ajarilah kami senantiasa bersyukur. Amin.


RABU BIASA XXXII B/2
Peringatan Wajib St. Yosef Pignatelli SJ
14 November 2018

Tit 3,1-7
Luk 17,11-19

Rabu Biasa XXXII A/1 2017: Agama Najis
Rabu Biasa XXXII B/1 2015: Utamakan Selamat
Rabu Biasa XXXII A/2 2014: Revolusi Mental Pengemis

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s